Peran berbahaya China dalam masalah perusakan alam

Orang Utan Tapanuli Diancam oleh China (© Tim Laman/CC BY 4.0)

6 Agt 2019

China tersangkut dalam proyek besar yang semakin merusak lingkungan di Asia dan Afrika. Negara ini adalah pendana penting proyek bendungan dan tambang. Sebagai pasar gading gajah, tanduk badak dan trenggiling, China berperan penting.

Berapa besar peranan China merusak alam, hal ini dapat diketahui dari kampanye Selamatkan Hutan Hujan. Sejumlah besar petisi ditujukan kepada pemerintah RTT dan Presiden Xi Jinping. Dipermasalahan lainnya China turut terlibat.

Selamatkan Hutan Hujan menuntut pemerintah China menghentikan sebuah proyek bendungan di Indonesia yang membahayakan kelestarian orangutan tapanuli. Perusahaan Sinohydro terlibat dalam pembangunan itu. Salah satu pendana proyek ini adalah Bank China. Di negara Guinea bendungan Koukoutamba mengancam habitat 1500 simpanse - disana Sinohydro juga telah mendapat kontrak.

Banyak proyek infrastruktur menjadi bagian dari Jalur Sutera abad 21 milik China. Inisiativ „Satu sabuk, satu jalan“ ini biayanya 8.000 miliar Dollar dan akan menutupi Asia dan Afrika dengan tenaga pembangkit listrik, bendungan-bendungan, pelabuhan laut, rel kereta api dan jalanan. Dibelakangnya berdiri kekuatan finansial China dan ambisinya mendominasi perekonomian dunia. Sejumlah besar proyek, ideologi globalisasi dan perdagangan dunia sangat merusak lingkungan hidup.

Pada tahun 2018 saja China menginvestasi sekitar 4,75 miliar Dollar di Malaysia. Perdana Mentri Mahathir Mohamad selama masa kampanye meskipun telah berjanji membatalkan proyek-proyek yang telah dimulai China, awalnya beliau membatalkan rencana proyek jalur kereta api East Coast Rail Link (ECRL) sepanjang 688 kilometer. Ternyata jalur yang sangat merusak lingkungan ini malah akan dibangun sebesar 10,6 miliar dollar.

Beberapa negara menolak tawaran kredit China. Seperti negara Sierra Leone yang memutuskan untuk tidak membangun lapangan terbang agar tidak terjerat hutang.

Pertumbuhan perekonomian China membutuhkan sumber daya alam yang besar. Itu sebabnya negara ini menginvestasi besar-besaran di pertambangan. Di Ghana hutan Atewa dimana baru-baru ini ditemukan satu spesies monyet Mangabe leher putih (white naked Mangabey, Cercocebus lunulatus) yang langka, terancam oleh pertambangan bauksit. China jelas telah melakukan kesepakatan sebesar 10 miliar Euro dengan negara ini.

Pertambangan bauksit dan juga bahan baku lainnya berhubungan dengan Eropa sebab China berproduksi untuk pasar dunia. Dan kita banyak mengimpor dari sana.

China adalah salah satu pusat pasar dunia bagi perdagangan hewan liar dan produk hewan legal dan ilegal, seperti gading gajah dan cula badak sebagai obat. Dengan begitu China ikut bertanggung jawab atas beberapa spesies yang terancam punah. Bubuk dan salep dari kulit gajah, tulang harimau, cula badak dan sisik trenggiling digunakan untuk obat-obatan tradisional. Daging trenggiling terkenal lezat.

Meskipun pemerintah China memerangi perdagangan gading, tapi pasar masih terus berjalan. Hal ini dimungkinkan oleh celah di Uni Eropa yang dimanfaatkan para penyelundup. Bahkan larangan berburu gajah di Botsawana ada hubungannya dengan China: larangan mengilhami pemburu menjual gading gajah ke China sebagai pasar penjualan.

China juga sebagai pasar penting bagi kayu tropis yang sering ditebang dengan ilegal. Contohnya import kayu sonokeling yang dieksploitasi dari hutan-hutan Nigeria dan diolah menjadi mebel yang kelihatan antik. Banyak produk kayu yang dijual dari China berasal dari sumber ilegal.

Ratusan perusahaan di provinsi Hainan mengerjakan kayu dari Asia Tenggara: kayu bangkirai untuk papan teras, kayu ramin untuk mebel dan kayu jati dari Myanmar. Dari hutan-hutan di Papua sebagian besar kayu-kayu itu diselundupkan ke China. Juga hutan-hutan di Siberia sering masuk ke Eropa melewati pabrik penggergajian atau pabrik kertas dari China.

Dalam hal menanggulangi bencana iklim China memiliki peranan penting. Negara ini secara keseluruhan merupakan produsen gas rumah kaca terbesar meskipun bukan per kepala. Sebagian emisi disebabkan karena China banyak memproduksi barang untuk dieksport ke seluruh dunia. Setiap satu dari empat tenaga listrik batubara yang dibangun di luar China, pemerintah China menempatkan perusahaan bangunannya atau penyandang dananya.