Kekerasan terhadap masyarakat adat di Sarawak – Lockdown Covid menghindari pertolongan

Korban yang dipukuli oleh petugas perusahaan sawit di Sarawak Kejadian dari video: dibelakang korban berdiri salah seorang pelaku dengan tongkat pukul (© SADIA)

18 Feb 2021

Masyarakat adat sering menderita siksaan badan oleh perusahaan minyak sawit. Kini mitra kami Matek Geram telah mengirim video yang menyedihkan dari Malaysia. Di video itu terlihat bagaimana beberapa pelaku mengeroyok seorang pemuda desa. Karena Sarawak sedang Covid-Lockdown, Matek hanya bisa terbatas merawat korban.

Tendangan dan pukulan tangan ke kepala, pukulan dengan tongkat panjang – sedikitnya di video itu ada enam laki-laki memukul penduduk desa yang berumur 22 tahun yang berasal dari suku Iban. Awal kejadian kepalanya didorong ke genangan air. Seorang pelaku mengenakan T-Shirt dengan tulisan „Security“. Polisi hanya tanggung-tanggung bertindak. Video berdurasi 1:26 menit itu tidak menunjukkan awal pengeroyokan dan berakhir dengan korban yang melarikan diri. Menurut media serangan itu berawal ketika korban ingin pergi meninggalkan perkebunan sawit, akan tetapi pihak keamanan tidak mengijinkan. Pemuda itu setelah kejadian harus dirawat beberapa hari di rumah sakit.

Mitra kami Bapak Matek Geram dari organisasi masyarakat adat SADIA telah mengirim kami video itu lewat WhatsApp, juga fotokopi surat lapor polisi tanggal 7 februari. Selang waktu lima pelaku telah ditangkap dan diinterograsi.

Pak Matek selalu dimintai pertolongan oleh masyarakt adat, jika mereka mengetahui adanya tindak kekerasan karena perkebunan. Kali ini ia tak sanggup berbuat banyak – karena Covid-Lockdown. Pelindung lingkungan dan aktivis HAM di banyak negara mengeluh karena peraturan Covid mengindari pekerjaan mereka, sementara perusahaan sawit, kayu dan tambang tak terhindar terus berjalan. Pak Matek hanya bisa melihat dari gubuknya di tepi sungai bagaimana kapal tongkang yang berisi penuh kayu tebang ilegal berlayar ke arah laut.

Serangan atas pemuda masyarakat adat ini terjadi di perkebunan sawit ladang 3 dekat kota Miri. Menurut informasi yang tersedia perusahaan minyak sawit Sarawak Plantation Agriculture Development (SPAD) pernah dimiliki negara Malaysia dan terdaftar di Bursa Efek Kuala Lumpur. 2019 perusahaan ini telah mengajukan permohonan segel minyak sawit Malaysia (MSPO), tapi belum perusahaan terima. Perusahaan ini menurut keterangan tidak mengekspor ke Uni Eropa (UE).

Matek Geram telah menyebarkan statement lewat WhatsApp:

Saya adalah aktivis akar rumput yang memperhatikan masalah sekitar hak ulayat milik masyarakat adat dan berbicara atas nama masyarakat adat di Sarawak.

Masalah ini mencemaskan kami.

Atas pandangan kejadian pada hari minggu lalu, dimana seorang pemuda dari suku Iban dikeroyok oleh tukang pukul SPAD, saya sangat tidak menerima perlakuan perusahaan yang menggunakan jasa preman.

Perusahaan melacak penduduk desa yang mempertahankan hak tanah adatnya. Ke sanalah perusahaan memaksa masuk. Perusahaan tidak hanya menginvasi tanah adat tapi juga dengan sengaja bermaksud membunuh penduduk desa yang telah kehilangan mata pencahariannya. (...)

Untuk seorang aktivis yang memperhatikan pelaksanaan hak-hak adat adalah menyedihkan melihat bagaimana hutan yang diwariskan nenek moyang kami dirusak oleh perusahaan minyak sawit.

Matek Anak Geram

Aktivis tanah