Peternakan masal

Read more

Beef steak dan paha ayam – selalu lebih banyak daging yang kita konsumsi terutama di negara industri. Tidak hanya hewan yang menderita yang digemukkan dan dipotong terkurung di pabrik-pabrik besar dan di kandang-kandang yang sangat sempit, tapi juga hutan hujan yang jadi korban akibat „lapar akan daging“ kita; perkebunan kedelai bagi kepentingan makanan ternak menutupi wilayah luas di Amerika Selatan, sapi-sapi terus memakan rumput hingga ke wilayah hutan hujan. Apa dampaknya bagi alam dan iklim? Bagaimana kita bisa memecahkan masalah ini?

Info 5 menit – Sapi memakan hutan hujan

Situasi awal – Lapar akan daging

Daging adalah makanan yang paling disukai banyak orang. Meskipun konsumsi daging masih rendah di Indonesia, masalah produksi massal sudah sangat dirasakan. Sapi peternakan massal diimpor dari Australia, dan ayam kampung telah diganti dengan ayam negri dari produksi massal. Sejak tahun 1950 „rasa lapar akan daging“ meningkat lebih dari dua kali. Rata-rata setiap orang Indonesia per bulannya mengkonsumsi 1 kilogram daging, dan setiap orang Amerika Serikat 10 kilogram!

Jutaan hewan dari peternakan massal yang setiap tahunnya dipotong membutuhkan makanan dalam jumlah besar. Begitu banyaknya sehingga sepertiga dari luas ladang di seluruh dunia digunakan buat makanan ternak. Bukannya memberikan makanan bagi manusia, tiap tahunnya di seluruh dunia sebagian besar panen gandum, jagung, jelai dan kedelai mendarat di perut hewan. Makanan ternak untuk unggas 30 persennya terdiri dari kedelai. Tumbuhan ini diimpor terutama dari negara-negara hutan hujan.

Dampaknya – Konversi hutan, monokultur kedelai, perubahan iklim

Eropa memasok hampir seluruh kedelai pakannya dari Argentina, Brasil dan Paraguay. Dimana dulunya hutan hujan Amazonas yang subur dan sabana menghiasi pemandangan alam disana, kini ditumbuhi oleh ladang kedelai yang luasnya lebih dari luas negara Jerman dan Belanda. Hanya bagi kebutuhan kedelai dari produsen Jerman diperlukan wilayah di Amerika Selatan yang luasnya lebih besar dari negara bagian Brandenburg. Untuk perluasan monokultur raksasa ditebanglah hutan yang sangat berharga dan digusurnya penduduk. Masyarakat yang tinggal akan sering sakit: ¾ perkebunan kedelai di Amerika Selatan merupakan kedelai genetis dari perusahaan pertanian Monsanto yang disemprot dengan bahan glifosat (Glyphosate dari China dan PT Dalzon, Round up dari Monsanto). Bahan ini dicurigai menyebabkan tumor dan merusak sel tubuh manusia.

Masalah lainnya adalah padang rumput ternak yang ditebang selalu merasuk lebih jauh ke hutan . Bila orang menghitung luas padang rumput dan ladang pakan ternak, maka diperlukan 3/4 dari seluruh wilayah agraria di seluruh dunia. Dampak iklim sangat mencemaskan: metana dari perut sapi, CO2 dari deforestasi dan penggunaan mesin, Dinitrogen oxida, atau gas tertawa, yang terurai dari pupuk: 18 persen emisi gas rumah kaca global berasal dari peternakan hewan.

Pemecahannya – makanan tradisional

Masa depan hutan hujan tergantung dari sikap kita: Produk dari hewan bagi kebutuhan makanan kita berandil sebanyak 72 % pada emisi gas rumah kaca yang terkait dengan kebutuhan gizi. Dibandingkan dengan produksi bukan dari hewan, untuk menghasilkan produk ini dibutuhkan wilayah yang jauh sangat luas.

Petunjuk berikut menolong melindungi manusia, alam dan iklim:

  1. Tolong dengan kedelai: Tahu dan tempe, makanan untuk manusia dari kedelai, tingginya protein dan sehat, adalah solusi yang paling gampang untuk melindungi alam dan iklim. Sayang sekali, kedelai kurang diperhatikan oleh pemerintah Indonesia. Luas lahan kedelai turun setiap tahun, dan jauh lebih banyak kedelai diimpor daripada kedelai lokal. Harap impor kedelai yang saat kini dibatasi (2016) dapat memancing perhatian pejabat.

  2. Makanan tradisional - tahu, tempe, beras, kacang: Hanya sekitar 2 % dari panen global kedelai diolah menjadi tahu, tempe dan produk yang sama lainnya. 98% diolah menjadi makanan hewan. Tahu, tempe, kacang, beras merah dan beras hitam – makanan tradisional yang lezat dan penuh gizi ini dan tingginya protein – budaya makanan Indonesia dapat menjadi contoh sehat bagi masakan Barat.

  3. Budaya selektiv makan daging: Barang siapa sama sekali tidak mau menghindari daging, bisa mengurangi kebiasaannya, makan daging saat pesta atau waktu tertentu, dan menolak daging dari peternakan masal.

  4. Hentikan menyia-nyiakan bahan makanan: Tiap tahunnya di seluruh dunia sisa daging dari jutaan hewan menjadi sampah rumah. Kesadaran berbelanja dapat menolong kehidupan.

  5. Protes demi kedaulatan pangan: Di demonstrasi untuk kedaulatan pangan dan aksi penolakan industri pangan, puluhan ribu manusia menuntut pertanian yang sehat dan ramah akan hewan-manusia-iklim. Jangan lahan masyarakat dan piring kita dikuasai oleh industri pangan!

  6. Mendorong pemerintah Indonesia untuk memperdayakan petani sebagai sumber pangan sehat dan ramah lingkungan!