Krisis iklim mengancam hewan komodo

Biawak Komodo jalan di pantai pasir Yang terakhir dari jenisnya – hewan komodo (© WALHI NTT)

15 Sep 2021

Uni Internasional untuk Konservasi Alam mengingatkan akan kepunahan biawak komodo atau yang lebih dikenal dengan hewan komodo. Organisasi ini menggolongkan hewan tersebut ke dalam daftar merah yang baru tentang spesies flora dan fauna yang terancam punah sebagai "kritis" atau “sangat terancam”. Daftar ini selalu lebih panjang karena krisis iklim.

Hewan komodo (Varanus komodoensis) hanya hidup di Taman Nasional Komodo dan di pulau Flores. Taman Nasional Komodo ini dikukuhkan sebagai situs Warisan Dunia pada tahun 1991. Diperkirakan tinggal 3.000 komodo saat kini. Kadal raksasa yang unik ini semakin terancam punah karena habitatnya dirusak dan penyelundupan hewan. Kini perubahan iklim semakin memperburuk permasalahnya.

Dengan petisi kami Hewan Komodo di Jurassic Park? Tidak! di bulan Juni 2021 lalu kami telah mengumpulkan lebih dari 86.000 suara yang menentang rencana pembangunan turisme mewah di Taman Nasional Komodo dan perusakan tempat peristirahatan terakhir komodo.

Atas dasar protes yang mendunia maka Komite Warisan Dunia UNESCO di bulan Agustus telah meminta pemerintah Indonesia untuk menghentikan proyek infrastruktur pariwisata karena mengancam habitat hewan komodo. Paling lambat bulan September 2021 pemerintah Indonesia harus menunjukkan revisi AMDAL Taman Nasional Komodo kepada UNESCO.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Daerah Nusa Tenggara Timur (Walhi NTT) mengapresiasi sikap Komite Warisan Dunia (UNESCO) yang meminta pemerintah menghentikan sementara pembangunan proyek pariwisata. Direktur Eksekutif Walhi NTT, Umbu Wulang, menegaskan, Walhi menolak adanya proyek pariwisata di wilayah Taman Nasional Komodo. “Kami mengapresiasi sikap konsisten dari UNESCO untuk melindungi Kawasan Man and Biosphere Taman Nasional Komodo dan juga sebagai kawasan heritage,” kata Umbu Wulang kepada Kompas.com.

“Sekaligus juga menghentikan segala bentuk perizinan untuk pembangunan infrastrukur pariwisata alam skala besar di Taman Nasional Komodo,” imbuh Umbu Wulang. Kemudian, ia meminta pemerintah lebih fokus terhadap upaya-upaya terpadu dan berkelanjutan untuk melindungi ekosistem Taman Nasional Komodo. Menurut dia, dalam kurun 5 tahun terakhir, perlindungan terkait Komodo kian menghadapi tantangan yang serius. “Misalnya pencurian mata rantai Komodo, pencurian anak Komodo, terbaru juga ada penyelundupan terumbu karang. Artinya urusan-urusan begini yang harusnya jadi prioritas,” tegas dia.

Namun tidak hanya “Jurassic Park” tapi juga krisis iklim mengancam kadal purba ini. Naiknya permukaan laut karena pemanasan dunia semakin bertambah akan mempersempit habitat komodo dengan drastis. Hal ini menurut laporan aktual Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN). Organisasi ini menggolongkan hewan komodo ke dalam daftar merah spesies flora dan fauna yang "kritis" atau “sangat terancam punah”

Masalah tentang hewan komodo dapat ditunjukkan dengan jelas oleh dampak dari krisis iklim yang mengerikan. Meningkatnya temperatur dunia dan permukaan laut menurut IUCN akan mempersempit habitat komodo di 45 tahun mendatang, setidak-tidaknya 30%. Yang sangat terancam adalah hewan komodo yang hidup di luar cagar alam di pulau Flores.

Sementara populasi di Taman Nasional Komodo relatif stabil, habitat komodo di pulau Flores antara tahun 1970 dan 2000 menurun hingga lebih 40% akibat pengaruh manusia, demikian peringatan IUCN.

Hewan komodo hidup di hutan dan sabana terbuka. Di ketinggian lebih dari 700 meter hewan ini tidak bisa hidup. Dengan demikian muncul bahaya bahwa jumlah hewan ini akan semakin surut oleh naiknya permukaan laut, jika mereka harus mengungsi ke gunung.

“Bayangan bahwa hewan prasejarah ini semakin mendekati kepunahannya oleh akibat perubahan iklim, sangat mengerikan”, ujar Dr. Andrew Terry, direktur konservasi Zoological Society of London. Sudah di tahun lalu para ahli atas dasar pemanasan global telah menuntut dilakukannya dengan segera langkah-langkah konservasi alam untuk menghindari kepunahan hewan komodo.

Dari tanggal 3 hingga 11 September 2021 di Marseille-Perancis telah diselenggarakan konggres perlindungan spesies Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN - International Union for Conservation of Nature). Organisasi ini memiliki lebih dari 1300 anggota, diantaranya para mentri, organisasi perlindungan lingkungan dan lembaga penelitian. IUCN memberikan masukan antara lain kepada UNESCO dalam penunjukkan dan pemantauan tempat-tempat warisan alam dunia.

Pada konggres tahunan perlindungan spesies, IUCN mengumumkan daftar merah terbaru yang menunjukkan spesies flora dan fauna yang terancam punah dari kategori “tidak begitu terancam”, “kritis - sangat terancam” hingga “sudah punah”. Keseluruhan daftar merah itu mencatat sekitar 140.000 spesies - 40.000 diantaranya “terancam punah”. Juga daftar merah itu selalu lebih panjang oleh karena pengaruh perubahan iklim.

https://walhintt.org/

https://www.hutanhujan.org/petisi/1232/hewan-komodo-di-jurassic-park-tidak

https://nasional.kompas.com/read/2021/08/03/16400891/apresiasi-permintaan-unesco-walhi-minta-pemerintah-hentikan-proyek-di-tn?page=all

https://en.tempo.co/read/1489934/unescos-call-against-komodo-island-tourism-projects-a-triumph-activist

https://en.tempo.co/read/1492915/sandiaga-uno-komodo-park-amdal-revision-to-be-submitted-to-unesco-september