Seekor orang utan diberondong dengan 130 peluru

orang utan yang mati diterjang 130 peluru Orang utan mati diterjang 130 peluru senapan angin (© COP - Center for Orangutan Protection)

22 Feb 2018

Lagi-lagi pembunuhan seekor orang utan! Di Kalimantan Timur seekor orang utan jantan mati diberondong peluru senapan angin. Penyelamat hewan syok: mereka menemukan 130 peluru di tubuh hewan itu. Sekali lagi perusahaan perkebunan merasa terganggu oleh sepupu kita.

Kebiadaban yang dialami seekor orang utan awal Februari ini di Kalimantan. Pada hari Selasa tanggal 6 Februari penyelamat hewan dari Center for Orang-Utan-Protection (COP) telah menemukan bangkai seekor orang utan yang berumur sekitar 5-7 tahun. Mereka mengangkat bangkai hewan itu dan membawanya ke rumah sakit untuk autopsi. Foto X-ray sangat membuat mereka syok: di dalam tubuh hewan itu terdapat 130 peluru! Orang utan ini meninggal karena infeksi yang disebabkan oleh banyaknya luka. „130 peluru senapan angin, seperti ini kami belum pernah temukan dalam konflik manusia dengan orang utan“, ujar seorang aktivis COP yang sangat kecewa.

Siapa yang bertanggung jawab, masih belum jelas. Lokasi kejadian berada di desa Teluk Pandan – Kalimantan Timur. Hutan hujan disana yang jadi habitat orang utan dirusak sangat besar. Wilayah hutan kecil yang tersisa sudah tidak cukup lagi untuk habitatnya. Selalu saja terjadi mereka harus mengasingkan diri ke salah satu perkebunan sawit dan karet, dimana pegawai kebun memburu bahkan membunuh mereka.

Di bulan Januari lalu sebuah kejadian yang mirip telah membuat amarah dunia. Di Kalimantan Tengah pelindung hewan telah menemukan bangkai orang utan tanpa kepala di sebuah sungai. Tepat pada tempat ini batas suaka orang utan dengan beberapa kebun sawit. Sebagian kebun-kebun tersebut menerobos jauh ke dalam habitat orang utan. COP dan Borneo-Orang-Utan-Survival-Foundation (BOSF) mengurus orang utan yang telah mati itu. Untuk pertama kali pembunuhan orang utan bisa diselidiki. Pelakunya dua pria dapat ditangkap. Mereka mengatakan bahwa mereka melakukannya karena takut.

Kekerasan brutal terhadap orang utan meningkat, namun penyebab sebenarnya atas punahnya primata yang terancam ini sangat mendalam. Habitat mereka yaitu hutan hujan lenyap. Sebaliknya semakin banyak kebun sawit yang selalu siap untuk bahan bakar biofuel, untuk industri makanan dan untuk deterjen. Sejak politik energi terbarukan di mancanegara diterapkan, Kalimantan sangat jadi sasaran. Di Kalimantan Tengah dengan luas 15 juta hektar terdapat 2,2 juta hektar darinya dimiliki perusahaan minyak sawit. „Permasalahnnya sangat besar“, jelas bapak Wiratno, kepala bidang perlindungan alam di kementrian kehutanan. „461.873 hektar sawit terletak di wilayah habitat orang utan.“

Masalahya sangat menyangkut kita! Perusahan sawit menghasilkan bahan konsumsi. Jadi tidak cukup bila menyeret buruh kebun ke penjara. Produsen minyak sawitlah yang harus bertanggung jawab. Di Kalimantan Tengah perusahaan Wilmar memiliki banyak kebun. Minyak sawit ini juga digunakan sebagai bahan bakar dan bahan makanan, seperti yang dikelola Unilever.