Ilmuwan: Kalimantan kehilangan lebih dari 100.000 orang utan

Orang utan mati dan terikat Orang utan meninggal di perkebunan sawit (© Collage RdR)

22 Feb 2018

Kita kehilangan hampir 150.000 orang utan dari Kalimantan dalam 16 tahun terakhir ini akibat rusaknya habitat dan pembunuhan.

Sejak tahun 1999, para ilmuwan telah menghitung sarang yang dibangun oleh orang utan di malam hari. Pada saat yang sama mereka telah mengevaluasi peta tentang perusakan hutan. Hasil penelitian di jurnal Current Biology. Dalam waktu 16 tahun saja populasi orang utan anjlok lebih dari 100.000 ekor. Jika tren terus berlanjut, populasi akan menurun sebanyak 45.300 hewan pada tahun 2050.

Menurut studi tersebut, 64 kelompok orangutan tinggal di Kalimantan. Namun, hanya 38 kelompok yang terdiri dari lebih dari 100 ekor, yang merupakan batas bawah populasi yang stabil. 26 kelompok orang utan menjadi sangat kecil sehingga masa depan mereka tidak menentu.

“Mereka menghilang lebih cepat dari yang diperkirakan para peneliti,” kata peneliti Maria Voigt. “Penyebab utamanya adalah degradasi dan kehilangan habitat sebagai respon terhadap permintaan sumber daya alam lokal dan global. Termasuk, produk kayu dan pertanian, namun sangat mungkin juga karena pembunuhan langsung,” tulis Voigt.

Yang bersalah atas bencana ini adalah booming minyak sawit. Pemusnahan hutan hujan di Kalimantan disepuluh tahun belakangan ini mencapai 7 juta hektar demi perkebunan kelapa sawit – sebuah areal 100 kali lebih besar dari DKI Jakarta atau sebesar Jawa Barat plus Jawa Tengah. Habitat orang utan dirampok.

Juga di hutan primer jumlah orang utan menurun drastis. Menurut Mongabay: kalimantan kehilangan hampir 150 ribu orangutan dalam 16 tahun terakhir, temuan timnya menyoroti perlunya perubahan dalam upaya melindungi orangutan di Kalimantan, termasuk konservasi habitat dan tindakan untuk memerangi pembunuhan.