Kami menuntut penyelamatan Orangutan Tapanuli

orangutan Tapanuli di pohon Protes internasional menentang bendungan Batang Toru di habitat Orangutan Tapanuli (© Tim Laman/CC BY 4.0)

25 Agt 2018

Seruan dari seluruh dunia: 800 Orangutan Tapanuli terancam punah bila hutan rimba terakhir di Sumatra Utara, hutan Batang Toru, ditebang untuk dibangun PLTA. Tolong tandatangani petisi kami „Selamatkan Orangutan Tapanuli dan hutannya!“

„Selamatkan 800 Orangutan Tapanuli dari kepunahan! Hentikan PLTA Batang-Toru! Selamatkan hutan rimba terakjir!“ Begitulah seruan pada Hari Orangutan Dunia di Jakarta. Pengunjuk rasa berprotes menentang bendungan dan PLTA di hutan Batang Toru, hutan rimba terakhir di Sumatra Utara yang menjadi tempat tinggal Orangutan yang langka ini.

Tempat: kantor PJB / perusahaan listrik negara (PLN);

Waktu: Senin, 20 Agustus 2018;

Peserta: aktivis jaringan lingkungan Indonesia WALHI;

Topik: spesies Orangutan yang baru ditemukan „Pongo tapanuliensis“ terancam punah;

Perihal: sebuah PLTA 510-MW dengan bendungannya, arus listrik tegangan tinggi, jalan besar dan terowongan di habitat Orangutan Batang Toru.

Proyek yang dibangun dan dibiayai negara Cina ini merupakan bagian dari „Jalur Sutra baru“. PLN lewat lahan sektor swastanya memiliki 25% saham PT. North Sumatera Hydro Electric (NSHE). NSHE akan membangun sebuah PLTA 510-MW ditengah-tengah hutan rimba yang kaya akan diversitasnya.

Demo Wahli Indonesien für Tapaluni Orang-Utan

Hal ini bisa menyebabkan punahnya Orangutan Tapanuli dan hutan rimba yang indah ini.

Orangutan Tapanuli baru di bulan November 2017 teridentifikasi sebagai spesies tersendiri. Terdapat sekitar 800 ekor yang hanya hidup di hutan Batang Toru. Bendungan, saluran listrik tegangan tinggi dan perencanaan terowongan sepanjang 13 kilometer di sepanjang sungai Batang Toru akan menghancurkan hutan, sehingga tiga populasi spesies ini akan terpisah selamanya dan membuat mereka tidak akan mampu bertahan hidup. 500-600 Orangutan hidup di bagian barat hutan, 160 di bagian timur dan kurang dari 30 ekor di cagar alam Sibual-Buali.

„Proyek besar adalah keputusan yang salah“ ujar Dana Tarigan dari WALHI-Sumatra Utara. „Energi terbarukan tidak boleh merusak ekosistim yang kaya akan diversitasnya.“

Jangan lupa: Batang Toru adalah wilayah gempa. Bencana alam selalu menanti.

Lebih dari satu juta manusia telah mengecam rencana gila ini. Petisi dari Selamatkan Hutan Hujan, avaaz, change.org dan berbagai LSM Indonesia, surat-surat dan peringatan dari para ilmuwan tidak bisa lagi diabaikan!

WALHI pada tanggal 8 Agustus 2018 telah menyerahkan gugatannya menentang pemberian ijin lingkungan (AMDAL) bagi proyek besar perusak lingkungan.

Kita harus terus berseru untuk menyelematkan Orangutan langka ini!