Indonesia menekan UE dan AS: Pesawat terbang harus berbahan bakar minyak sawit

Kolase: Pesawat Airbus terbang di atas perkebunan sawit Industri Airbus dalam bahaya? (© Public Domain - Collage Rettet den Regenwald)

25 Agt 2018

Indonesia menekan Uni Eropa dan Amerika Serikat? Kami akan membeli pesawat Anda, jika pesawat Anda berbahan bakar minyak sawit, begitulah ringkasan tuntutannya.

Mentri Perdagangan Indonesia Enggartiasto Lukita menuntut agar Amerika Serikat dan UE menginjinkan produksi bahan bakar pesawat dari minyak sawit di negara mereka, demikian kantor berita Reuters. Itu adalah syarat pembelian pesawat terbang Boeing atau Airbus.

Menurut media Indonesia perusahaan pesawat akan mendapat kontrak bila tuntutan dipenuhi. Boeing kabarnya siap mengkonstruksi pesawatnya agar bisa menggunakan bahan bakar bioavtur

Mentri Perdagangan Lukita berusaha mempercepat penjualan minyak sawit. Bulan Juli UE telah memutuskan menghentikan minyak sawit untuk biofuel di tahun 2030. Aktivis lingkungan sudah sejak lama menuntut penghentian itu.

„Minyak sawit adalah salah satu penyabab rusaknya hutan hujan. Jutaan petani kecil digusur“, ujar Reinhard Behrend dari NGO Selamatkan Hutan Hujan. Batasan tahun 2030 terlalu lama sebab sampai di tahun itu hutan terus ditebang.

Maskapai penerbangan milik negara Garuda konon atas dasar harga telah menghentikan pemesanan Boeing dan Airbus. Maskapai swasta Lion Air mengutamakan bahan bakar minyak sawit dan telah memesan 50 Boeing 737 dengan harga 6,2 juta US-Dollar.

Bagaimana kacaunya Indonesia berjuang merebut UE sebagai pasar penjualan, ditunjukkan oleh anekdot dari pertengahan tahun pertama: Indonesia mengancam boikot ikan dari Norwegia jika UE mengimpor minyak sawit lebih sedikit. Padahal Norwegia bukan anggota UE.

Baik kedua perusahaan pesawat maupun kedua maskapai tidak memberikan komentar atas berita Reuters.