Kepunahan spesies mengancam kita semua

Orangutan di pohon Orangutan diambang kepunahan (© IAR)

9 Mei 2019

Punahnya hewan dan tumbuhan mengancam manusia. Satu juta spesies akan segera punah bila kita manusia terus merusak bumi seperti sekarang ini. Peraturan harus dirubah secara mendasar.

Laporan aktual PBB mengenai keaneka ragaman spesies menunjukkan gambaran yang dramatis: Satu juta spesies hewan dan tumbuhan di satu dekade kedepan akan terancam punah. Jumlah ini jauh lebih banyak bahkan beratus-ratus kali lebih banyak dibanding 10 juta tahun belakangan ini.

Dengan demikian biomassa mamalia yang hidup bebas sekitar 82 persennya telah dirampas. Ekosistim alam telah kehilangan setengah dari wilayahnya, bahkan di wilayah lahan basah hingga 85 persen. Sekitar seperempat dari areal darat telah rusak parah secara ekologis.

Yang paling menderita dari bencana ini adalah hutan hujan tropis: Bagi ternak padang rumput di Amerika Selatan dan perkebunan kelapa sawit di Asia Tenggara antara tahun 1980 dan 2000 telah ditebang sekitar 100 juta hektar, berikutnya antara tahun 2010 dan 2015 hilang 32 juta hektar.

Para ilmuwan yang membuat laporan tersebut sangat terkejut melihat bagaimana alam telah dirusak. „Kita merusak landasan dasar ekonomi kita, mata pencaharian kita, ketahanan pangan kita, kesehatan kita dan kualitas kehidupan kita di seluruh dunia“, ujar Sir Robert Watson, ketua Platform Antarpemerintah tentang Keanekaragaman Hayati dan Layanan Ekosistem (IPBES). „Kita telah kehilangan waktu. Kini kita harus bertindak.”

Penyebab utama perusakan ini adalah penangkapan ikan, perhutanan dan pertanian, terutama industri monokultur dan produksi daging. Namun juga pertumbuhan penduduk, konsumsi sumber daya yang membludak, polusi dan pendatangan spesies asing turut berperan. Lima persen jumlah segala spesies dapat punah oleh perubahan iklim ini, meskipun pemanasan dunia dibatasi hingga dua persen: Habitat sebagian besar spesies menyusut secara signifikan, terumbu karang hampir sepenuhnya akan hilang.

Para penulis laporan ini menuntut segera perubahan peraturan: „Masyarakat jangan jadi panik, sebaiknya mereka harus menjalankan perbahan yang drastis. Slogan „lanjutkan“ dengan penyesuaian yang minim tidak akan cukup“, demikian peringatan profesor Josef Settele dari Pusat-Helmholtz untuk Penelitian Lingkungan Hidup di Leipzig-Jerman.

Laporan ini menyoroti peran masyarakat adat yang hidup di wilayah hutan hujan dalam hal perlindungan alam.

Perlindungan spesies akhirnya juga menjadi agenda G7, sebuah pertemuan negara-negara industri terbesar. Hingga satu setengah tahun ke depan sekitar 200 negara memiliki waktu untuk menunjukkan bahwa mereka serius menanggapi peringatan ini. Pada pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi Konservasi Dunia di Kunming-Cina tahun 2020 nanti persetujuan kerangka kerja PBB untuk melestarikan keanekaragaman hayati akan diputuskan.

Sejauh ini komunitas internasional sebagian besar telah gagal melindungi keanekaragaman hayati.