Blue Band – olesan berdarah dari Unilever

Rama menghapuskan pohon Untuk Rama dan Blue Band masyarakat digusur dan hutan ditebang

Anda kenal Blue Band? Rasanya selalu sama – tapi Blue Band dari Unilever berisi apa? Minyak sawit dengan darah dari masyarakat adat dan petani di Indonesia yang diancam, ditembaki, ditangkap dan digusur demi produk Unilever. Kini Wilmar, pemasok besar minyak sawit bagi Unilever, terkait dengan kekerasan lagi. Proteslah bersama kami!

seruan

Kepada: Bapak Henricus Brouwer, pimpinan perusahaan Unilever Jerman Holding GmbH. Strandkai 1, 20457 Hamburg

Unilever: hentilah hubungan dengan Wilmar! Stop kekerasan terhadap masyarakat di Jambi!

Membaca surat

Mereka datang pada tengah hari dan berpakaian pasukan anti teror: Di Sumatra 700 pasukan brimob dan tenaga keamanan Wilmar menyerbu dusun Sungai Beruang. Dalam waktu beberapa menit mereka telah merusak dan merampas apa saja yang dibangun penduduk dengan susah payah. Dengan panik ratusan penduduk bersama anak-anaknya melarikan diri ke hutan menghindari tembakan dan bulldozer milik brimob. Daerah tersebut didiami masyarakat adat Suku Anak Dalam yang sejak turun temurun tinggal di sana dan terus menerus harus berjuang bertahan hidup menentang pemerintah, perusahaan minyak sawit dan antek-anteknya.

Penyebab aksi kekerasan ini adalah cerita lama: Demi perkebunan sawit masyarakat digusur, hutan hujan sebagai sumber kehidupannya ditebang. Siapa yang melawan akan diintimidasi, ditahan atau ditembak. Wilmar International termasuk sebagai perusahaan yang terjahat didunia. Beroperasi di lebih dari 600.000 hektar perkebunan di Sumatra dan Kalimantan.Terkenal karena penebangan ilegal dan pelanggaran HAM.

Informasi berikutnya

“Wilmar selalu menyewa pasukan brimob untuk membungkam penduduk yang menentang perampasan tanah dan kekerasan,” ujar Feri Irawan. “Wilmar menjalankan bisnis berdarah”. Organisasinya Perkumpulan Hijau bersama dengan LSM lainnya telah mendokumentasi kekerasan dan mengorganisir aksi di depan gedung DPRD Jambi.

Unilever merupakan salah satu pengguna minyak sawit terbesar di dunia dengan jumlah 1,3 juta ton per tahun. Dari produk Blue Band, Dove hingga Signal – minyak sawit terdapat di hampir seluruh produk Unilever. Dan Wilmar Internasional merupakan salah satu pemasok yang terpenting.

Harus berapa banyak lagi manusia di Indonesia yang takut akan hidupnya hingga akhirnya Unilever mau bertanggung jawab? 

Latar belakang

Di sebuah desa di Jambi tanggal 8 Agusuts petani yang bernama Zainal tertimpa musibah. Ia telah memanen buah sawit di atas tanahnya yang ia warisi dari nenek moyangnya. Dalam perjalan menuju pabrik, kendaraannya beserta isinya disita oleh pihak keamanan PT. Asiatic Persada. Perusahaan ini merupakan anak perusahaan minyak sawit terbesar di dunia Wilmar International. Di provinsi Jambi anak perusahaan ini memiliki 30.000 hektar kebun sawit. Hutan sebagai tempat tinggal masyarakat adat dan petani dicuri demi perkebunan ini,“ ujar Feri. „Sekarang mereka berusaha bertahan hidup ditengah-tengah luasnya kebun sawit. Mereka tidak akan membiarkan dirinya digusur.“

Bila penduduk yang hidupnya sudah susah sedang memanen buah sawit, maka perusahaan beraksi dengan kekerasan; Asiatic Persada mengklaim minyak sawit miliknya sendiri. Bahkan tahun lalu perusahaan ini menyebabkan tertangkapnya 18 petani dari desa terdekat Bungku. Bersama dengan Global Film dusta keberlanjutan ini kami rekam di film kami.

Ketika Zainal menuntut balik kendaraannya, keadaan menjadi tegang. Pihak keamanan Wilmar memanggil brimob, 18 petani ditangkap. Akhirnya brimob menyerbu desa tersebut dan mengepungnya berhari-hari. Brimob menembakan peluru tajam dan mengenai punggung seorang penduduk. Sejak itu orang ini menghilang. Zainal dan empat anggota keluarganya masih berada di tahanan polisi di ibukota kabupaten Batanghari.

Dalam film yang dibuat Global Film dan Selamatkan Hutan Hujan "Die Nachhaltigkeitslüge" (Dusta Keberlanjutan) kami telah mendokumentasikan penebangan dan konflik antara Wilmar dan penduduk. Di You Tube Anda bisa melihat film dari Robin Wood Rama - Urwald aufs Brot(Rama – hutan rimba di atas roti).

Surat

Kepada: Bapak Henricus Brouwer, pimpinan perusahaan Unilever Jerman Holding GmbH. Strandkai 1, 20457 Hamburg

Yang terhormat Bapak Brouwer,

kami kecewa atas kekerasan baru-baru ini di provinsi Jambi. Hal ini pasti Anda sudah mendengar. Anak perusahaan Wilmar (PT. Asiatic Persada) kembali memanggil brigade brimob untuk menakut-nakuti masyarakat adat dan menggusurnya. Sedikitnya seorang tertembak di punggungnya dan luka parah; rumah-rumah dari 40 keluarga dirusak parah dan dijarah.

Kembali latar belakangnya adalah konflik antara perusahaan minyak sawit dan masyarakat asli yang sejak turun temurun hidup di hutan hujan. Dimana hutan ini sejak dua dekade dirusak secara sistematis demi industri besar monokultur. Perusakan ini mengancam manusia, alam tropis dengan kekayaan hayatinya yang tak ternilai – dan iklim.

Indonesia berkat penebangan hutan hujannya bergelar negara penghasil CO2 ketiga terbesar di dunia. Anda pasti sudah mengetahuinya. Dan Anda pasti juga tahu bahwa Wilmar Internasional, salah satu pemasok besar minyak sawit ke perusahaan Anda, bertanggung jawab atas penebangan ilegal dan pelanggaran berat HAM. Masalah ini dilihat dengan mata langsung oleh karyawan Selamatkan Hutan Hujan di Kalimantan Tengah dan Barat serta di Sumatra. Dan ini juga didokumentasikan oleh Organisasi lingkungan hidup dan HAM lokal dan internasional sejak bertahun-tahun dan dipertunjukkan di publik dunia. Mungkin Anda mengetahui film pendek berdurasi 12 menit „Die Nachhaltigkeitslüge – wie die Palmölindustrie die Welt betrügt“ („Dusta berkelanjutan – bagaimana industri minyak sawit membohongi dunia“). Film ini dibuat di musim gugur 2010 oleh Globalfilm dan Selamatkan Hutan Hujan di Kalimantan dan Sumatra. Anda bisa melihatnya di website kami: http://www.regenwald.org/news/3188/die-nachhaltigkeits-luge-ein-film-uber-das-schmutzige-geschaft-im-regenwald

Tentang berkelanjutan. Tahun 2008 Anda sudah menginformasikan pelanggan Anda bahwa mulai tahun 2009 Anda akan membeli minyak „sawit berkelanjutan“ dan mulai tahun 2015 Anda hanya menggunakan minyak sawit „yang ditanam secara berkelanjutan“. Satu contoh adalah perkebunan sawit di dekat Sampit – Kalimantan Tengah yang panjangnya 100 kilometer dan lebarnya 8 kilomter. Sebagian besar perkebunan itu milik Wilmar. Apakah monokultur yang dirawat dengan pupuk kimia dan pestisida yang diperkirakan membawa keuntungan besar itu bisa dibilang berkelanjutan?

Monokultur tidak mengenal berkelanjutan – sertifikat tidak mampu merubah hal itu. Selain itu: bagaimana mungkin sebuah perusahaan bisa dipercaya bila perkebunannya meskipun punya sertifikat (contohnya anak perusahaan Wilmar – Mustika Sembuluh di Kalimantan Tengah) tapi disamping itu menebang hutan tanpa ijin dan menyebabkan petani tergusur?

Bisakah orang berbisnis dengan perusahaan seperti ini yang menipu pelanggannya dengan mengatakan bahwa semuanya beres?

Kami mengatakan: Tidak! Desaklah segera untuk ganti minyak sawit secara konsekuen di produk Anda dengan minyak lemak lokal.

Dengan hormat

Tolong tandatangani

Bantulah kami mencapai 50.000:

35.027
aktivitas sebelumnya