Uni Eropa (UE) dan perdagangan kayu

UE bersama dengan Cina, Jepang dan USA termasuk kedalam importir terbesar kayu ilegal sedunia. Hingga kini barang curian itu tiap hari hadir di counter-counter dagangan tanpa ada upaya hukum yang efektiv untuk mencegahnya. Kayu ilegal ini sebenarnya bisa disita dan pelakunya bisa dituntut pertanggung jawabannya.

Apakah FLEGT, SVLK dan Peraturan Perdagangan Kayu UE (European Timber Regulation) benar-benar berfungsi, tergantung terutama dari keinginan pemerintah negara-negara. Mereka harus menjalankan peraturan tersebut melalui pengawasan yang efektif. Pengawasan yang menyeluruh atas impor kayu hingga kini belum direncanakan, masih hanya terbatas pada tes sampel. Selain itu kemauan untuk melarang impor kayu ilegal di beberapa negara UE masih kurang. Peraturan tersebut secara umum hanya berlaku bagi importir pertama-UE.

Ironisnya pemerintah Jerman di menit-menit terakhir mundur dari sanksi hukuman. Di tingkat nasional pemerintah Jerman dengan perubahan UU Keamanan Perdagangan Kayu sangat membatasi sanksi hukuman pencurian kayu: Hanya kasus-kasus berikut ini yang bisa dituntut, dimana di dalamnya „didapatkan keuntungan finansial skala besar atau suatu tindakan yang disengaja yang dilakukan terus menerus“. Hukuman pelanggaran administrativ hampir tidak dapat mencegah kejahatan terorganisir yang tiap tahunnya dari berdagang kayu ilegal mendapat penghasilan antara 30 sampai 100 miliar USD, demikian perkiraan Bank Dunia.

Impor kayu tropis mentah sudah sejak bertahun-tahun berkurang. Sebaliknya impor kayu jadi terutama dari Cina dan Asia Tenggara meningkat drastis. Apakah container yang berisi isi peralatan dapur dan rumah tangga, alat mainan anak-anak, kerajinan tangan dan mebel hanya dibuat dari kayu tebang legal, sulit untuk dilacak.

Selain itu barang cetakan sama sekali tidak dimasukkan di UU yang baru. Cina mencetak dalam jumlah besar buku-buku dan katalog yang bahan dasarnya berasal dari hasil tebang habis hutan hujan. Analisa serat kayu telah menunjukkan: Para ahli telah menemukan dalam barang cetakan itu tingginya pemakaian bahan serat kayu dari pohon-pohon di hutan rimba seperti dari jenis-jenis meranti, kayu bakau dan bahkan ramin. Pohon-pohon ini terdaftar dalam indeks Konvensi Perdagangan Internasional Tumbuhan dan Satwa Liar Spesies Terancam Punah (inggris: CITES).

Tapi juga kayu tropis legal bukan berarti baik bagi manusia dan alam

Secara umum legalitas barang adalah persyaratan minimum yang mutlak. Sebab legal belum lagi berarti ramah lingkungan dan layak sosial. Mengacu pada UU masih terbuka kesempatan para perusahaan kayu menjarah hutan hujan setiap saat.

Pemerintahan memberikan ijin atau konsensi penebangan di lahan hutan rimba yang luas dan kebanyakan tanpa mengindahkan hutan milik masyarakat lokal yang mata pencahariannya bergantung pada ekosistim setempat. Masyarakat lokal sering baru mengetahui bila perusahaan kayu tiba dengan buldoser dan alat-alat berat lainnya dengan tujuan meratakan jalan dan jalan tanah yang sebelumnya masih berupa hutan hujan yang belum terjamah, serta membangun tempat penimbunan kayu, pabrik penggergajian, kamp pekerja dlsb.

Mengalihkan tanggung jawab pada label kayu

Selain itu politisi terutama dar partai hijau menghimbau regulasi ekonomi mandiri dan sukarela. Mereka ingin agar produk kayu yang bersertifikat salah satu dari berbagai label industri, seperti Forest Stewardship Council (FSC), Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) dari Indonesia, Malaysian Timber Certification Council (MTCC) atau Programme for the Endorsement of Forest Certification Schemes (PEFC) pada dasarnya dianggap legal.

Bagi politik dan industri kayu dengan santai mengalihkan tanggung jawab kepada label. Padahal transparansi dan penelusuran kayu produksi yang benar tak bisa dijamin semua label, sehingga penebangan hutan hujan tidak bisa dihentikan. Dengan perlindungan label, perusahaan terus menebang hutan primer yang belum terjamah dan menjadikannya industri besar monokultur.

Analisa DNA dari kayu

Di kesempatan lain pemerintah Jerman banyak berinvestasi untuk proyek sidik jari DNA kayu. Dengan begitu bukan hanya jenis kayu yang bisa dipastikan, tapi juga asalnya. Masalahnya adalah analisa DNA ini sangat rumit, mahal dan baru disusun. Di dunia terdapat ratusan jenis kayu yang diperdagangkan, secara global sebenarnya berjumlah lebih dari 10.000 jenis pohon.

Pihak yang ditugaskan yakni Hamburger Thünen-Institut harus mengambil dari semua kayu dagangan ini masing-masing ribuan sampel dari pohon-pohon yang hidup di berbagai lokasi hutan dari keseluruhan wilayah penyebaran dan menganalisa DNAnya di laboratorium. Pekerjaan ini membutuhkan waktu berpuluh-puluh tahun agar bisa meneliti dengan seksama semua jenis kayu yang penting. Sementara itu nantinya banyak hutan-hutan yang sudah lenyap karena tiap tahunnya di dunia hutan hujan seluas 13 juta hektar ditebang.

Titik lemah lainnya: Dengan analisa DNA orang tidak bisa memastikan lokasi yang tepat sebuah pohon, melainkan hanya kurang lebih dengan radius 30 kilometer. Hal ini hampir sebanding dengan luas kota Jakarta bersama Bogor. Bagi beberapa konsensi kayu besar yang sebagian diantaranya memiliki lahan jutaan hektar, pemastian lokasi yang tidak akurat ini cukup baik bagi mereka. Karena dibanyak lahan hutan ijin penebangan pohon jauh lebih kecil, maka analisa DNA ini tidak dapat menerangkan apakah sampel kayu berasal dari penebangan legal atau dari penjarahan ilegal yang jaraknya 15 kilometer dari asal pohon sebenarnya.

Informasi selanjutnya:

Studi dari Interpol dan Uno tentang penebangan ilegal, penipuan pajak dan cuci uang dengan kayu tropis: Green Carbon – Black Trade Illegal Logging, Tax Fraud and Laundering in the Worlds Tropical Forests