Skip to main content
Cari
Kaleng aluminium yang dipres
© Ishikawa Ken / Flickr - CC BY-SA
Penduduk desa Hamdallaye di pertambangan bauksit Sangaredi
Pertambangan bauksit di Guinea (© Benjamin Moscovici)

Tanya jawab mengenai Aluminium

Aluminium dari bijih bauksit diperoleh dari lahan pertambangan yang luas. Karena berat Aluminium ringan sehingga memiliki banyak kegunaan, baik untuk kendaraan, konstruksi, kemasan, maupun dalam transisi energi terbarukan. Namun, proses produksinya terkait dengan kerusakan lingkungan, lumpur merah beracun, gangguan kesehatan dan kebutuhan energi yang sangat tinggi.

Definisi: Apa itu aluminium dan bauksit?

Aluminium merupakan unsur kimia terbanyak ketiga di kerak bumi, yang awalnya berbentuk oksida dan aluminium silikat. Bijih bauksit adalah bahan baku utama untuk produksi aluminium.

Pemakaian utama produksi aluminium dan paduan logamnya adalah untuk industri automotif, pesawat terbang dan mesin serta sektor pembangunan dan kemasan.

Apakah untuk aluminium hutan hujan harus ditebang?

Bijih bauksit biasanya didapat dari lahan pertambangan yang luas. Hingga saat kini bauksit sebagian besar terdapat di daerah sabuk tropis. Di negara-negara penghasil seperti Indonesia, Guinea, Jamaika, India, Australia dan Brasil, hutan hujan terus ditebang demi bauksit. Acap kali sumber kehidupan masyarakat adat atau masyarakat setempat juga terancam oleh karenanya - contohnya dalam kasus di sungai Kapuas di Kecamatan Tayan Hilir, Kalimantan Barat.

Bauksit di Indonesia

Cadangan bauksit di Indonesia adalah yang terbesar keenam di dunia dengan suplai mencapai 18% kebutuhan global. Oleh karena itu Indonesia merupakan salah satu pemasok  bauksit di pasar dunia. Wilayah kandungan bauksit yang besar ada di pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Wilayah-wilayah ini memasok lebih dari 80% cadangan bauksit nasional (1,2 miliar ton).

Hasil ekspor bauksit dan produk turunannya yang masuk ke kas negara Indonesia sebesar 8,2 miliar US-Dollar tiap tahunnya. Kini pemerintah Indonesia mencanangkan melipatkan keuntungan dari sektor ini hingga tahun 2030 sebesar 15 miliar US-Dollar.  Oleh karena itu bauksit mentah sebelum diekspor harus diolah terlebih dahulu dalam smelter agar menjadi bahan aluminium (proses hilirisasi). Dengan demikian harga jualnya menjadi jauh lebih tinggi. 

Saat kini sudah ada 4 smelter yang sudah aktif di Indonesia, lokasi berada di Kalimantan Barat dan Riau. Ke dua provinsi ini merupakan wilayah penghasil bauksit terbesar di Indonesia. Di Kalimantan Barat luas tambang bauksit yang memiliki IUP (Izin Usaha Pertambangan) adalah 557.259 hektar dan di Riau 34.993 hektar.

Namun harga yang harus ditanggung oleh alam sangatlah mengerikan. Pertambangan bauksit menyebabkan deforestasi, erosi tanah, hilangnya sumber mata pencaharian dan pencemaran air. Dan ini merupakan masalah yang begitu besar, karena menyangkut masa depan bumi kita. Masyarakat harus aktif menjaga lingkungan hidupnya dan pemerintah harus berpihak kepada rakyat dan memberikan sanksi tegas kepada perusahaan yang melanggar peraturan. 

Salah satu contoh dari katastrofe ini adalah penderitaan yang sungguh menyedihkan yang dialami penduduk di sekitar sungai Kapuas, Kalimantan Barat. Banyak dari mereka mengalami gangguan kesehatan berat, seperti keracunan dan penyakit kulit. Nelayanpun semakin susah mendapatkan ikan dan udang karena banyak yang sudah mati atau tidak lagi hidup di sana. Sumber

Mengapa produksi aluminium toksik?

Pengelolaan bauksit menjadi aluminium sangat merusak lingkungan hidup, karena prosesnya menghasilkan limbah toksik yang berbentuk lumpur merah. Dari setiap satu ton produksi aluminium dihasilkan antara dua sampai enam ton limbah toksik. Oleh karena tidak ada kemungkinan untuk mengolah lumpur merah menjadi bahan berguna, maka zat beracun ini dibuang ke laut atau ke sungai begitu saja. Bagi ekosistem yang terlanda limbah toksik ini berarti harus menanggung dampak yang mematikan.

Berbagai gas, terutama fluorida, yang timbul dari proses peleburan merusak flora, fauna dan penduduk sekitar pabrik. Gas-gas ini menyebabkan penyakit susah bernafas, kerusakan tulang (Fluorose), penyakit kulit dan berbagai ancaman kesehatan lainnya.

Mengapa produksi aluminium membuat iklim menjadi lebih panas?

Peleburan aluminium membutuhkan energi yang sangat besar. Oleh karena itu pihak produsen memindahkan usahanya ke negara-negara yang biaya listriknya murah. Energi yang dibutuhkan itu terutama berasal dari PLTA atau PLTU batu bara. Sementara pendirian pembangkit listrik semacam ini membutuhkan lahan yang luas sehingga harus menebang begitu banyak hutan hujan dan habitat flora dan fauna. Tambah lagi pembangkit listrik ini menghasilkan gas metana yang juga menjadi penyebab besar naiknya temperatur iklim. Menurut sebuah penelitian yang dipublikasi oleh BBC Future; andil gas metana pada pemanasan global adalah 25 kali lebih besar dibanding karbon dioksida dalam 100 tahun. 

Gas metana terbentuk di bawah air pada proses penguraian sisa-sisa tumbuhan. Oleh sebabnya, sebagai contoh, listrik yang dihasilkan oleh PLTA Batang Toru di Sumatera Utara bisa lebih merusak lingkungan dari pada sebuah PLTU batu bara yang dayanya sebanding dengan PLTA Batang Toru. Berbagai gas lainnya yang juga sangat berbahaya bagi iklim seperti hidrokarbon fluorinasi akan terlepas ke udara pada saat proses peleburan (gas ini 6000 - 9000 kali lebih merusak lingkungan dari pada CO2).

Bagaimana proses mendapatkan aluminium?

Aluminium dengan jumlah delapa persen merupakan unsur kimia ketiga terbanyak di kerak bumi. Pertama kali ditemukan tahun 1808. Berkat penemuan proses elektrolisis pada 1886 produksi aluminium mulai diperdagangkan.

Pada semua bahan mineral yang mengandung aluminium, hanya bauksit yang menguntungkan secara ekonomi. Sebab bauksit mengandung aluminium hingga 60 persen. Bauksit dipanaskan di dalam tangki bertekanan besar hingga 150 sampai 200°C dengan natrium hidroksida (proses Bayer). Pemanasan tersebut menghasilkan zat garam yang bernama aluminat yang dalam proses berikutnya membentuk oksida aluminium. 

Kemudian oksida aluminium dilebur dengan menggunakan jumlah listrik yang besar yang dalam istilah tekniknya bernama proses elektrolisis. Satu juta ton produksi oksida aluminium membutuhkan energi sebesar energi yang dibutuhkan setengah juta rumah tangga dalam setahun. Lalu proses terakhir ini menghasilkan aluminium logam. 

Limbah dari pertambangan disebut lumpur merah yang mengandung banyak unsur besi. Kemudian limbah ini disaring dan ditampung dalam semacam kolam raksasa.

Apa dampak limbah lumpur merah bagi lingkungan?

Lumpur merah terdiri dari partikel-partikel halus (senyawa besi menghasilkan warna merah) dan natrium hidroksida yang digunakan dalam produksi. Selain itu, tergantung dari asalnya bauksit, dalam lumpur merah terdapat sejumlah besar logam berat.

Bila perusahaan tidak hati-hati menampung lumpur atau membuang begitu saja lumpur itu ke sungai terdekat, maka terutama logam berat dan natrium hidroksida yang membuat dampak berbahaya. Partikel-partikel yang halus mengendap di sungai dan danau di wilayah sekitar. Pori-pori dan rongga yang tertutup olehnya menyebabkan kematian flora dan fauna dengan cepat. Tempat pembuangan limbah yang tidak tertutup rapat membuat air tanah teracun oleh logam berat. Hal ini sangat mengancam kesehatan berjangka panjang bagi manusia yang hidup di sekitarnya. Hingga kini sudah banyak terjadi katastrofe di seluruh dunia akibat rusaknya atau robohnya tempat pembuangan limbah lumpur merah.

Di produksi sehari-hari mana saja yang mengandung aluminium?

Selain di kertas aluminium, unsur aluminium masih banyak kita temukan di barang-barang harian lainnya, contohnya bungkus permen karet, kemasan cemilan, kemasan kopi - tetra pak - yoghurt - odol - deodorant dlsb. 

Oleh karena itu sangatlah penting menghindari penggunaan kemasan yang mengandung aluminium, setidak-tidaknya perhatikan apakah kemasan itu hasil daur ulang. Sebab bahan daur ulang ini, meskipun bukan solusi terbaik, tapi lebih ramah lingkungan. Bahan aluminium bisa 100% di daur ulang. Hasil dari proses ini disebut aluminium sekunder. Produksi yang menggunakan aluminium sekunder hanya memerlukan lima persen energi dibanding energi yang dibutuhkan untuk produksi yang menggunakan aluminium baru.

Namun sulit untuk menemukan aluminium hasil daur ulang yang dipakai dalam berbagai macam kemasan seperti kemasan kopi dan tetra pak. Limbah bekas pemakaian barang-barang yang mengandung aluminium kini digunakan untuk produksi semen atau dibakar begitu saja.

Untuk keperluan rumah karena kemampuannya mengalirkan panas (konduksi termal), bahan baku aluminium juga ditemukan di alat masak (contoh wajan dan panci). Selain itu karena bahan aluminium beratnya ringan, maka banyak digunakan untuk membuat pesawat terbang, gerbong kereta, mobil dan saluran listrik tegangan tinggi. Dalam industri elektronik bahan ini juga semakin sering dipakai sebagai pengganti tembaga. Aluminium semakin menjadi penting bagi negara Indonesia karena bahan ini dapat membawa transisi menuju energi yang terbarukan, contohnya mobil listrik dan panel surya.

Sebenarnya berapa banyak aluminium yang negara-negara industri butuhkan?

Karena tingkat kepadatannya yang rendah, aluminium mempunyai arti penting dan menjanjikan di bidang industri. Penggunaan logam aluminium ini di negara-negara industri selalu meningkat. Berhubungan dengan konsumsi per kapita, posisi Indonesia berada pada 1,5 kg per orang tiap tahun. Sementara Jerman pada posisi pertama dunia dengan 31,6 kg per orang tiap tahun, diikuti USA dengan 30 kg, Jepang 26,4 kg dan Tiongkok 24 kg.

Selanjutnya penggunaan aluminium di dunia bisa kita lihat dari uraian berikut: 29 persen penggunaan aluminium untuk sektor transportasi, lalu sektor pembangunan (22 persen), kemasan (15 pesen), produksi listrik (12 persen) dan teknik mesin serta barang-barang konsumsi tahan lama (masing-masing 9 persen).

Siapa yang bertanggung jawab atas pertambangan bauksit dan produksi aluminium?

Negara-negara penghasil utama bauksit dari data tahun 2023 adalah Australia (98.000 ton), Guinea (97.000 ton), Tiongkok (93.000 ton), Brasil (31.000 ton), India (23.000 ton) dan Indonesia (20.000 ton).

Sementara itu ada sepuluh perusahaan aluminium terbesar di dunia, diantaranya terdapat di Tiongkok (Chalco), Jepang (UACJ Corporation), Rusia (Rusal), India (Hindalco), Inggris Raya dan Australia (Rio Tinto) dan USA (Alcoa) dll. Perusahaan-perusahaan ini menguasai 85,6 persen volume produksi aluminium dunia (data 2024).

Adakah aluminium yang „bersih“?

Yang „paling bersih“ adalah aluminium sama sekali tidak dikonsumsi. Setiap mengurangi pemakaian kemasan akan mengurangi perusakan lingkungan hidup. Bila konsumsi aluminium tidak dapat dihindari, usahakan memakainya dari bahan daur ulang dengan proses pendauran yang sesuai standart.

Tapi ada juga proses produksi aluminium yang sedikit lebih ramah lingkungan, seperti yang dilakukan sebuah pabrik aluminium di dekat kota Hamburg (Jerman). Perusahaan tersebut mengusahakan sedikit mungkin pemakaian energi. Lumpur merah hasil limbah produksi dibersihkan oleh natrium hidroksida untuk mendapatkan aluminium yang tersisa. Selanjutnya lumpur itu ditampung di tempat penampungan yang benar-benar rapat. Dengan begitu dampak buruk produksi tersebut bagi lingkungan hidup dapat ditekan seminimal mungkin. 

Namun meskipun begitu masih ada masalah-masalah besar yang tetap eksis seperti perusakan lanskap akibat pembangunan tambang bauksit dan transportasi ke Jerman yang tidak ramah lingkungan.

Apakah hilirisasi aluminium tidak memberikan devisa dan pembangunan yang penting bagi negara-negara produksi?

Biasanya hilirisasi membutuhkan biaya yang sangat besar yang berarti negara Indonesia harus berhutang dan membayar bunganya selama bertahun-tahun ke investor. Tidak hanya negara yang harus mengambil alih sebagian besar investasi awal pembangun tambang untuk menarik perusahaan-perusahaan asing, tapi juga negara harus membayar pembangunan pembangkit listrik yang diperlukan. Kemudian pihak produsen aluminium bernegosiasi dengan perusahaan listrik negara membuat kontrak untuk mendapatkan listrik dengan harga di bawah Biaya Pokok Penyediaan. Menurut pemerintah Indonesia, keringanan atau kemudahan lainnya seperti bebas pajak, impor peralatan produksi yang bebas bea dan bebas pajak pendapatan bagi karyawan asing akan menjadi daya tarik bagi pihak korporasi.   

Tetapi bagi masyarakat, proyek-proyek tersebut hanya memberi sedikit lapangan pekerjaan, malah sering menyebabkan masalah-masalah sosial dan ekologis yang besar. Contoh seperti yang terjadi di pulau Propos dan Kas (Riau). Seperti yang dikutip dari majalah Mongabay, di ke dua pulau kecil itu dulu banyak tumbuh pohon karet. Namun setelah masuknya dua perusahaan tambang, pohon-pohon ditebang dan lahan menjadi tandus. Hampir 90 % wilayah darat di dua pulau habis untuk jadi pertambangan. Sebagian besar penduduk mengungsi bekerja di Malaysia, karena tidak mungkin lagi bisa bekerja sebagai petani di kampungnya. Di beberapa tahun lalu operasi perusahaan berhenti karena izinnya sudah habis. Sampai berita dari Mongabay ini dipublikasikan, perusahaan belum menepati janjinya untuk mereklamasi lahan pasca tambang. Bukan itu saja, perusahaanpun belum seluruhnya mengembalikan surat tanah milik warga yang dulu mereka berikan ke perusahaan pada saat  penandatanganan sewa lahan. Kini warga desa yang ingin kembali bekerja di kampungnya jadi sangat resah, karena lahannya belum diperbaiki perusahaan.

Sebenarnya dari segi hukum, merubah ekologi ke dua pulau ini merupakan pelanggaran hukum, oleh karenanya  dilarang. Putusan Mahkamah Konstitusi mengatakan bahwa pulau kecil yang mempunyai luas di bawah 100 km2 memiliki perlindungan khusus karena pulau ini sangat rentan akan kerusakan ekologis. Tapi sangat ironis karena Kementerian Kelautan dan Perikanan menyatakan bahwa di 477 pulau kecil di Indonesia yang berada di 21 kabupaten/kota di Indonesia terdapat 226 izin usaha pertambangan. Meski sudah ada bukti jelas ini, namun pemerintah nampak tidak serius menindak tegas perusahaan-perusahaan yang melanggar hukum.

Apa yang bisa saya lakukan?

  • Jika mungkin hindarkan penggunaan kertas aluminium. Lebih baik menggunakan kotak makanan.
  • Untuk acara barberque, lebih baik menggunakan daun pisang sebagai pembungkus dari pada kertas aluminium.
  • Hindari pembelian minuman dalam kemasan aluminium.
  • Lebih baik minum kopi organik (lebih baik lagi dari perusahaan kecil) dari pada kapsul kopi. Dengan cara ini Anda tidak saja menghemat aluminium dan melestarikan hutan hujan, tapi juga dompet Anda.
  • Bila Anda karena suatu alasan tidak bisa menghindari penggunaan produk aluminium, Anda harus membuang sampah dari produk ini ke tempat sampah daur ulang.
  • Perhatikan pada saat membeli, contohnya, deodorant bahwa isi bahan bebas aluminium. Dan juga perhatikan bahan pembuat kemasannya.
  • Perhatikan barang-barang elektronik Anda, seperti handphone, computer, televisi, lemari es dan lain sebagainya. Hindari sering mengganti dengan yang baru.
  • Tolong katakan pada produsen yang menggunakan bahan aluminium untuk mengubah produksinya.
  • Dukung kerja Selamatkan Hutan Hujan untuk melindungi hutan dari penebangan demi produksi aluminium.
  • Beritahukan kepada keluarga, saudara, teman dan orang lain untuk berlangganan newsletter kami. Kami senantiasa memberikan berita aktual tentang penyelamatan hutan hujan dan lingkungan hidup.
  • Beritahukan kepada siapa saja mengenai dampak buruk produksi aluminium bagi hutan hujan.

Selamatkan Hutan Hujan 2026

 

  1. lebih lanjut: 

Related topics

Pesan buletin kami sekarang.

Tetap up-to-date dengan newsletter gratis kami - untuk menyelamatkan hutan hujan!