Kami berjuang bagi setiap hewan dan setiap pohon
Indonesia: Ratusan pertambangan nikel ada di Sulawesi hingga masuk ke daerah hutan yang dilindungi. Pertambangan ini mengancam budaya masyarakat adat, merusak alam dan habitat hewan-hewan endemik. Moh Taufik, direktur organisasi JATAM - Sulawesi Tengah, melaporkan dari kecamatan terpencil Bualemo.
Dari jauh kami melihat gunung Tompotika. Tingginya 1600 meter dan terletak di ujung Sulawesi Tengah, jauh dari ibu kota Palu. Dari sanalah kami berangkat ke sini.
Dan gunung ini juga jauh dari Morowali, pusat industri nikel. Hutan Tompotika adalah kawasan lindung, jantung keanekaragaman hayati yang sangat luar biasa di Sulawesi dan juga habitat spesies burung maleo, burung rangkong, bubutu dan anoa.
Sedikitnya terdapat sembilan spesies hewan yang terancam punah yang hanya hidup di sana, tidak di tempat lain di dunia.
Kami pergi ke Bualemo, sebuah kecamatan dengan 20 desa, lalu melewati ladang dan kebun sawit, terutama melewati berbagai wilayah hutan hujan yang masih alami.
Di Bualemo hidup kelompok masyarakat adat Saluan. Mereka juga disebut dengan „Orang Loinang (orang gunung)“.
Mereka punya bahasa sendiri dan terus mempertahankan nilai-nilai leluhurnya. Kami berterima kasih kepada mereka karena alam di sini di timur Sulawesi masih seimbang. Ini karena suku Saluan hidup serasi dengan lingkungan hidup dan menghargai „kebersamaan, penghormatan dan berterima kasih kepada alam“.
Sudah 20 pertambangan yang diizinkan
Budaya, dunia hewan dan hutan hujan di Tompotika dalam bahaya besar. Sebab serbuan mencari bijih nikel tidak berhenti bahkan menjalar ke wilayah hutan hujan yang terpencil dan terindah sekalipun. Suku Saluan telah mengingatkan organisasi kami yaitu JATAM Sulteng. Mereka mengetahui perizinan pertambangan bijih nikel di tempat tinggal mereka.
Kami telah membuat peta dari perizinan-perizinan yang baru. Analisa kami menunjukkan perkembangan yang meresahkan: Kabupaten Banggai telah memberi 20 perizinan. Di kecamatan Bualemo saja ada lima perusahaan tambang yang memiliki konsesi lebih dari 10.000 hektar hutan hujan, bahkan di hutan lindung Tompotika. Beberapa pertambangan akan berdiri di hulu sungai, padahal atas dasar peraturan perlindungan air sebenarnya hal ini dilarang. Konsesi-konsesi bahkan tumpang tindih dengan ladang dan kebun milik warga dan membuat mata pencaharian mereka terancam. Jika kami tidak menghentikan perkembangan ini, kecamatan Bualemo akan segera menyerupai neraka nikel Morowali.
Kehidupan masyarakat adat Saluan yang dekat dengan alam kini terancam
„Kami berjalan kaki tujuh hari lamanya menelusuri hutan Tompotika dan telah mengidentifikasi perairan yang bisa terdampak oleh pertambangan“, lapor Mariun dari desa Lembah Tompotika kepada kami. „Kami berjalan hingga ke mata air di atas gunung. Warga desa membutuhkan air tersebut dan juga berguna untuk mengairi sawah kami.“
Bukan hanya kehidupan suku Saluan yang dekat dengan alam dalam keadaan bahaya, tapi juga hutan Tompotika dan hewan-hewan endemik di sana ikut terancam. Oleh karena itu kami dengan kampanye dan beberapa aksi mendatangi politisi dan jawatan berwenang di kabupaten Banggai dan provinsi Sulteng. Mereka harus menjamin bahwa Kementerian di Jakarta akan mencabut izin-izin tersebut.
Industri nikel di Morowali adalah contoh mengerikan akibat bencana pertambangan nikel dan pabrik-pabrik pada alam dan warga sekitar. Mereka telah kehilangan mata pencaharian sebagai petani dan nelayan. Banyak dari mereka yang sakit, anak-anak kekurangan gizi, penduduk semakin miskin dan sungai-sungai tercemar.
Pertambangan nikel juga tidak boleh merusak sumber kehidupan masyarakat adat Saluan dan hewan endemik di Bualemo. Bencana ekologis dan sosial bisa diperkirakan. Sulawesi dan alamnya tidak boleh terus dikorbankan demi melonjaknya permintaan baja dan baterai mobil. Kami berjuang bagi budaya masyarakat adat, bagi setiap hewan yang terancam punah, setiap hutan dan setiap pohon. Manusia membutuhkan alam Sulawesi yang luar biasa uniknya ini dan kami membutuhkan solidaritas dari seluruh dunia!
Moh Taufik adalah ahli hukum dan direktur JATAM (Jaringan Advokasi Tambang) Sulteng
Transisi energi - tanpa tembaga dan nikel dari hutan hujan!
Kita menggunakannya terlalu banyak logam. Pertambangan logam tidak berkelanjutan. Mobil listrik membuat permasalahan semakin tajam. Diperlukan kebijakan bahan baku yang beda
SOS dari Sulawesi: pasir jadi langka!
Di daerah Palu dan kabupaten Donggala – Sulawesi Tengah - pasir dikeruk secara besar-besaran – bagi reklamasi lahan dan pembangunan jalan. Jatam menyerukan tanda bahaya.
Mobil listrik rakus bahan mentah
Mobil listrik meskipun lebih sedikit menghasilkan emisi CO2 daripada kendaraan yang membakar fossil fuel, tapi dalam produksinya memerlukan banyak bahan mentah.