Kehancuran hutan dan banjir besar di Kalimantan Selatan

hutan hujan yang utuh di Kalimantan Ekosistem yang sehat melindungi kita dari bencana (© SOB)

18 Jan 2021

Banjir besar di Kalimantan Selatan merupakan akibat ekosistem yang rusak karena aktivitas pertambangan dan perkebunan kelapa sawit tanpa adanya kajian yang baik. Pemerintah harus berani mengevaluasi izin terhadap perusahaan-perusahaan yang bekerja di kawasan hutan.

Banjir besar terjadi di Kalimantan Selatan sejak 12-13 Januari. Dampak akibat banjir itu, sebanyak 24.379 rumah terendam banjir dan ribuan warga mengungsi. Selain itu, 15 orang tercatat meninggal. Menurut Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) penyebab banjir tersebut diawali karena tingginya curah hujan yang terjadi sejak 12 Januari hingga 13 Januari.

Namun yang tidak kalah penting adalah data deforestasi akibat perubahan tutupan hutan di Kalimantan selatan yang yang dianggap menjadi akar masalah. Menurut Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Kalimantan selatan bahwa banjir yang terjadi merupakan akibat ekosistem yang rusak karena aktivitas pertambangan dan perkebunan kelapa sawit tanpa adanya kajian yang baik. Berdasarkan catatan Walhi Kalimantan Selatan terdapat  814 lubang milik 157 perusahaan tambang batubara. Sebagian lubang tersebut masih berstatus aktif dan sebahagian ditinggal oleh perusahaan tanpa reklamasi. Kemudian dari 3,7 juta hektare total luas lahan di Kalimantan Selatan setidaknya 50 persen diantaranya sudah dikuasai oleh perizinan tambang dan kelapa sawit. Kondisi kerusakan ini akan sangat rawan bencana ekologis jika terjadi cuaca ekstrim. Karena itu pemerintah harus berani mengevaluasi izin terhadap perusahaan-perusahaan yang bekerja di Kawasan hutan tersebut.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan selatan merilis data harian hingga per tanggal 14 Januari 2021. Tercatat ada 67.842 jiwa yang terdampak dari total 57 peristiwa banjir sejak awal tahun. Khusus untuk bangunan rumah warga yang terdampak sebanyak 19.452 unit. Sementara wilayah terdampak banjir ini masih didominasi dari Kabupaten Tanah Laut, dengan jumlah sebanyak 34.431 jiwa, Kabupaten Banjar yang tercatat sebanyak 25.601 jiwa, sisanya berasal Kota Banjarbaru, Kabupaten Tabalong, Kabupaten Tapin, dan sekitarnya.