Satelit membuktikan: Janji minyak sawit tidak merusak hutan hujan tak dapat dipercaya

HGU di Kalimantan Kenyataan: Perkebunan sawit daripada hutan hujan di Kalimantan (© SOB)

19 Feb 2021

Pelakunya sama - ini adalah hasil penilaian data satelit dari Indonesia, Malaysia dan Papua Niugini yang disajikan organisasi Chain Reaction Research. Perusakan hutan hujan untuk minyak sawit adalah nyata.

Kabar baiknya dulu: 2020 tampak lebih sedikit hutan hujan yang ditebang untuk minyak sawit di Asia Tenggara dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kabar buruknya: pelaku yang sama yang bertanggung jawab atas perusakan hutan hujan. Hal ini sesuai analisa Chain Reaction Research (CRR) berdasarkan data satelit.

Di Indonesia, Malaysia dan Papua Niugini perusahaan minyak sawit ditahun 2020 telah menebang 38.000 hektar hujan hujan, demikian hasil analisa. Tapi meskipun perusakan hutan untuk minyak sawit lebih sedikit dari tahun-tahun sebelumnya, namun pelakunya sama, demikian para penulis Pelaku deforestasi top untuk minyak sawit di Asia Tenggara tingkat penebangan rendah tapi pelakunya sama. 2018 dan 2019, menurut keterangan dari data satelit CRR, penebangan telah terjadi dua kali lebih banyak (2018: 74.000 ha dan 2019: 90.000 ha).

2020 dalam konteks corona-pandemi dijelaskan bahwa semua negara telah mengurangi kegiatan perekonominya dan membatasi perjalanan. Penurunan laju penebangan diduga disebabkan oleh tindakan untuk mengurangi penyebaran pandemi Covid-19, tapi bukan untuk mencegah deforestasi yang dijanjikan banyak perusahaan konglomerat yang mendapatkan minyak sawitnya dari perkebunan milik perusahaan pelaku penebangan hutan hujan.

2021 bisa jadi punahnya hutan hujan akan bertambah drastis, sebab terutama di indonesia telah direncanakan proyek-proyek besar seperti Food Estate dan HGU untuk industri biodiesel. Pemerintah ingin meningkatkan produksi biodiesel secara masiv dan membangun 15 juta hektar perkebunan untuk pasar domestik - di kawasan hutan.

58% penebangan hutan hujan di tahun 2020 terjadi di wilayah konsensi dari hanya 10 perusahaan. Ditingkat teratas tercantum perusahaan milik pengusaha asal Indonesia Sulaidy. Hampir tdak ada informasi tentang dia. Di Kalimantan Timur saja ia telah menebang hutan hujan hampir seluas 2000 ha untuk perkebunannya. Minyak sawit asal Sulaidy setelah diproses di kilang minyak milik perusahaan lainnya mendarat di pasar besar yang mengklaim bahwa minyak sawit ini tanpa menebang hutan hujan. Setelah pelacakan di tempat perusahaan konglomerat berikut membeli minyak sawit dari kilang ini: ADMOleonAvonDanoneKellogg’sMondelēzNestléPZ CussonsUnilever, dan  Upfield.

Di tingkat berikutnya tercantum perusahaan Ciliandry Anky Abadi yang kabarnya, seperti juga perusahaan First Resources, milik keluarga Fangiono. Namun First Resources membantah adanya hubungan dagang langsung. Protes terhadap perusahaan perkebunan lainnya milik First Resources kami tulis dalam petisi Hentikan penggalian di hutan monyet bekantan di Kalimantan. Minyak sawit dari Ciliandry Anky Abadi di suplai ke AvonFriesland CampinaJohnson & JohnsonKellogg’sL’OrealMondelēzPZ Cussons, dan Upfield .

Penebang terbesar ketiga adalah Bengalon Jaya Lestari yang beroperasi juga di Kalimantan. Perusahaan ini baru masuk dalam daftar, sementara semua perusahaan lainnya sudah di tahun 2018 dan 2019 masuk dalam peringkat atas perusak hutan untuk minyak sawit.

Dari latar belakang analisa, komitmen perusahaan-perusahaan besar dari Avon, Kellogg´s hingga Unilever untuk tidak menggunakan minyak sawit yang merusak hutan hujan tidak bisa dipercaya.