Perusahaan kayu dan minyak sawit Korindo kehilangan label FSC

Foto dari udara: Ekskavator di lahan yang telah dibuka untuk perkebunan sawit milik perusahaan Korindo di Papua. Korindo telah mengkonversi hutan hujan di Papua menjadi perkebunan sawit (© Mighty Earth)

21 Jul 2021

Perusahaan minyak sawit dan kayu asal Indonesia Korindo kehilangan label FSC. Alasan pencabutan menurut FSC karena Korindo telah menebang hutan untuk perkebunan sawit. Hal ini “telah membuat kerusakan dan potensi kehancuran hutan yang bernilai lindung tinggi”. Disamping itu Korindo telah, menurut FSC, mengabaikan hak partisipasi penduduk.

Proses menuntut Korindo dimulai dari sebuah keluhan yang telah diajukan organisasi Mighty Earth kepada Forest Stewardship Council (FSC) tahun 2017. Sebuah investigasi FSC telah menemukan “bukti-bukti yang tidak meragukan lagi” bahwa Korindo telah merusak 30.000 hektar “hutan dengan status perlindungan tinggi”. Selain itu perusahaan ini “dengan kepastian yang sangat mungkin” juga telah mendukung “pelanggaran hak adat dan HAM demi keuntungan sendiri.”

Kemudian Korindo juga telah berjanji untuk memperbaiki kerusakan ekologis dan sosial dan boleh terus menggunakan label. Namun kini terjadi perubahan drastis: Karena pemeriksaan atas janji tidak mungkin, maka timbulah suatu situasi yang tak bisa dielakan”, ujar Kim Carstensen - Direktur Jendral FSC internaional: “Oleh karena itu dewan telah memutuskan untuk memisahkan diri.”

Menurut Kwangyul Peck, Chief Sustainability Officer dari Korindo Grup, keputusan itu sangat mengejutkan. BBC mengutip perkataan Peck bahwa orang jadi sangat kaget.Oleh karena itu reaksi berikut adalah luar biasa sebab Korindo tahun 2019 telah mengancam untuk mengambil langkah hukum melawan FSC dan sebuah berita dari FSC tentang kejanggalan-kejanggalan meskipun dipublikasikan tapi banyak dipotong.

Dikeluarkannya Korindo dari FSC berlaku tanggal 16 Oktober.

Di Papua dulu masih terdapat hutan hujan yang luas dan yang masih utuh di Asia Tenggara. Namun dalam beberapa tahun belakangan ini banyak perusahaan pertanian yang menebang dalam skala besar, terutama untuk perkebunan sawit. Korindo merupakan salah satu pemain terbesar dan lebih banyak menguasai lahan dibanding perusahaan-perusahaan lainnya. Sesuai konsesi telah ditebang hutan hampir seluas 60.000 hektar. Luas ini hampir seluas daratan DKI Jakarta.

FSC sebenarnya harus menjamin pengelolaan hutan yang bertanggung jawab. Tapi FSC punya banyak titik lemah yang sudah sering disinggung para pelindung lingkungan sebagai cara mencuci hijau. Tapi meskipun begitu karena label FSC bagi perusahaan dan konsumen sangat berharga, pencabutan label ini bisa menjadi kerugian bagi Korindo.

Korindo sebelumnya bisa menyembunyikan diri di belakang label FSC dan mencuci hijau. Sekarang hal ini tidak mungkin lagi. Menurut keterangan Korindo sendiri, perusahaan ini sedang berusaha untuk bisa diterima lagi oleh FSC.

Kritikan terhadap usaha-usahanya membuat Korindo di Jerman berusaha untuk mencegahnya: LSM Selamatkan Hutan Hujan kini sedang dalam proses di pengadilan Hamburg, setelah LSM ini mengecam perusakan hutan hujan di Papua. Gugatan dari Korindo berusaha mengintimidasi pelindung lingkungan dan membungkamnya. Oleh karena itu gugatan ini disebut sebagai parade gugutan intimidasi yang dalam bahasa Inggris disebut SLAPP.