Hentikan biofuel!

Ibu Mentri Lingkungan dapat menyelematkan orang utan Politik biofuel menyebabkan kebakaran hutan di Indonesia berlanjut dan merugikan manusia dan orang utan yang terancam punah (© BMUB/Harald Franzen & Roger Le Guen/CC BY-NC-SA 2.0 - Montage: Rettet den Regenwald)

Untuk memperluas usahanya perusahaan sawit membakar hutan di Indonesia. Turut bertanggung jawab adalah politik Jerman terhadap bahan bakar nabati: Studi terbaru menunjukkan tiap tahunnya mengalir 424.000 ton minyak sawit ke mobil di Jerman. Mentri LH Jerman Ibu Hendricks bisa segera menghentikan politik fatal ini.

Berita & update seruan

Kepada: Kanselir Jerman Angela Merkel dan Mentri Lingkungan Barbara Hendricks

Hapuslah segera biodiesel. Untuk produksi minyak sawit, hutan hujan harus dibakar dan manusia serta hewan harus dibunuh.

Membaca surat

Banyak hutan hujan yang dibakar sebab pemerintah Jerman dengan apa yang disebut biofuel ingin melindungi iklim. Studi terbaru menunjukkan bahwa Jerman mengimpor 424.000 ton minyak sawit untuk memenuhi kebutuhan biofuelnya. Untuk membangun perkebunan sawit diperlukan areal seluas 1400 km². Di Uni Eropa (UE) tiap tahunya diperlukan dua juta minyak sawit bagi sarana kendaraan. Biodiesel dicampur dengan diesel dari fossil, demikian ketentuan hukum Jerman dan UE. Bulan Juli lalu dewan Eropa telah menetapkan campuran bioenergi sebesar 7 persen ke dalam bahan bakar fosil – berarti proporsi dari tanaman energi terus meningkat: Saat kini setiap pengisian tanki kendaraan umumnya mengandung 5 persen biofuel.

Untuk produksi minyak sawit, Indonesia sebagai negara pengekspor minyak sawit terbesar di dunia, harus membakar hutan dan hutan gambut. Hingga awal Oktober di Sumatra dan Kalimantan areal dengan luas lebih dari 20.000 km2 hangus dibakar. Melalui pembukaan hutan dengan membakar, perusahaan mempersiapkan perluasan perkebunan – cara ini lebih murah daripada membuka hutan dengan mesin. „Tiap tahun hutan kami dibakar. Dan tiap tahun lebih parah“, ujar Nordin dari Save Our Borneo. Sedikitnya 25 juta penduduk sejak lebih dari 3 bulan hidup bagai di neraka yang penuh dengan api dan asap.

Situasi yang sangat dramatis terjadi di Kalimantan Tengah, kampung halaman Nordin. Dalam beberapa hari konsentrasi partikel polutan di udara 90 kali lebih besar daripada yang di batasi Organisasi Kesehatan Dunia – hal ini mengancam kehidupan!

Kebijakan Uni Eropa reformasi biofuel di Jerman diimplementasikan secara administratif. Pemerintah Jerman harus mampu menghentikan politik biofuel yang fatal ini. Pemerintah juga seharusnya meyakinkan pemimpin negara negara Uni Eropa lainnya bahwa biofuel membahayakan manusia, alam dan iklim.

Latar belakang

Badan Federal Pertanian dan Pangan Jerman pada Desember 2015 telah mengumumkan jumlah terbaru penggunaan bahan bakar bio di Jerman. Laporan Evaluasi dan Pantauan 2014 tentang peraturan keberlanjutan biomassa dan biofuel menunjukkan di Jerman pada tahun 2014 mengalir 424.000 ton minyak sawit guna bahan bakar bio kendaraan diesel (lihat halaman 64 tabel 9 dan halaman 67 tabel 12).

Minyak sawit berasal dari Asia (lihat halaman 66 tabel 11, asal usul pengiriman bahan bakar bio), yang diduga berasal dari Indonesia dan Malaysia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia. Untuk hasil panen rata-rata dari 3 ton sawit per hektar dibutuhkan 140.000 hektar areal perkebunan atau 1400 km². Ini sebanding dengan 2 kali luas dari luasnya Jakarta atau Berlin. Ini hanya untuk keperluan biofuel Jerman sehingga hutan hujan di Indonesia harus ditebang.

Untuk produksi agrofuel sebagai diesel tambahan dibentuk 3 metode:

Tahun 2014 sebanyak 88.000 ton minyak sawit dipakai untuk produksi biofuel (Fatty Acid Methyl Ester – FAME). Namun minyak nabati terhidrogenasi(Hydrotreated Vegetable Oils – HVO) memerlukan jumlah yang sangat besar yaitu 336.000 ton minyak sawit. Sehingga jumlah seluruhnya adalah 424.000 ton minyak sawit. Baik biodiesel dan minyak sawit terhidrogenasi yang dicampur ke dalam bahan bakar diesel yang berasal dari minyak bumi dinyatakan secara hukum sebagai peraturan bagian dari biofuel.

Perusahaan negara Finlandia Neste dan perusahaan energi Italia ENI telah mengembangkan prosedur yang terpatenkan bagi produksi yang berbasis HVO untuk mensuplai pasar Eropa. Sebagai bahan baku bagi prosedur ini hampi seluruhnya menggunakan minyak sawit. Untuk itu Neste (NEXTBTL) telah membangun beberapa kilang minyak biofuel: Di Singapur dan Rotterdam yang masing-masing berkapasitas sekitar 900.000 ton biofuel tiap tahunnya dan dua kilang minyak yang lebih kecil di Finlandia.

ENI telah mengubah sebuah kilang minyak bumi di pelabuhan Marghera dekat Venice dengan sebutan „Diesel Hijau“. Di sini hidrolisis juga digunakan. Kilang minyak ini, demikian keterangan perusahaan, tahun 2014 telah menghasilkan 144.000 ton biofuel sebagian besar berasal dari minyak sawit. Tahun ini diperkirakan 360.000 ton biofuel diproduksi dan mulai 2016 bahkan akan sebanyak 420.000 ton tiap tahun. ENI akan memugar sebuah kilang minyak untuk agrofuel di Sisilia (lokasi Gela). Perusahaan Perancis Total mengikuti juga rencana serupa dengan sebuah kilang minyak bumi di La Mede.

Badan Federal Pertanian dan Pangan Jerman dalam keterangan persnya tentang laporan evaluasi menyebut bahwa pemakaian minyak sawit untuk produksi biofuel pada tahun 2014 menurun sekitar 27 persen dibanding tahun sebelumnya. Apa hal ini merupakan perubahan yang positif, masih dipertanyakan. Pemakaian minyak nabati untuk produksi biofuel tergantung dari, antara lain, harga bahan baku di pasar dunia. Sepanjang 2013 harga rata-rata tahunan pasar dunia untuk minyak sawit 760 US-Dollar per ton, tahun 2014 740 US-Dollar per ton dan tahun 2015 merosot hingga 570 US-Dollar per ton. Hal ini sangat berdampak bagi produsen untuk menggunakan minyak sawit lebih banyak lagi. Pada tahun 2015 belum diumumkan jumlah produksi bahan bakar agro dan bahan baku yang digunakan.

Laporan evaluasi dan pengamatan 2014 atas peraturan keberlanjutan aliran bio massa dan bahan bakar bio

Halaman 64 tabel 9 penjualan bahan bakar bio dari FAME (biodiesel) dalam jumlah ton, bahan baku minyak sawit
2012: 121.000 ton
2013: 154.000 ton
2014: 88.000 ton

Penjualan bahan bakar bio dari minyak nabati terhidrogenasi(Hydrotreated Vegetable Oils – HVO) dalam jumlah ton, bahan baku minyak sawit
2012: 395.000 ton
2013: 472.000 ton
2014: 336.000 ton

Penjualan bahan bakar bio di Jerman (FAME+HVO) dengan minyak sawit sebagai bahan baku
2012: 516.000 ton
2013: 626.000 ton
2014: 424.000 ton

Surat

Kepada: Kanselir Jerman Angela Merkel dan Mentri Lingkungan Barbara Hendricks

Yang terhormat Kanselir Jerman Ibu Merkel, yang terhormat Ibu Mentri Hendricks,

berbulan-bulan lamanya hutan hujan di Indonesia dibakar – terutama untuk penyediaan tempat bagi perkebunan industri baru dengan minyak sawit dan akasia. Asap yang sangat beracun membuat awan gelap di sebagian besar wilayah Indonesia dan negara-negara tetangga. Lebih dari 20 penduduk meninggal akibatnya; sebagian besar anak kecil. 500.000 penduduk lainnya sakit berat akibat asap beracun.

Ini adalah bencana yang dibuat manusia – dan ini adalah sebuah hasil fatal dari politik iklim dan energi Eropa. Sebab minyak sawit digunakan antara lain untuk produksi biofuel. Menurut Badan Federal Pertanian dan Pangan, untuk kebutuhan biofuel Jerman secara keseluruhan pada tahun 2014 digunakan sebanyak 424.000 ton minyak sawit. Untuk itu diperlukan sekitar 1400 km² untuk pembangunan perkebunan sawit di hutan hujan. Setiap pengisian tanki kendaraan, penduduk Jerman mau tidak mau turut andil dalam bencana ini.

Bahan bakar yang digunakan untuk produksi biodiesel seperti minyak rapa dan minyak kedelai juga memiliki dampak lingkungan yang sama buruknya. Oleh karena itu hentikanlah politik biofuel dan yakinkanlah pemimpin negara negara Uni Eropa lainnya, bahwa biofuel sangat membahayakan manusia, alam dan iklim. Hapuslah dengan segera ketentuan campuran biofuel.

Hormat saya,

Berita & update

Petisi ini tersedia dalam bahasa-bahasa berikut:

Tolong tandatangani

Bantulah kami mencapai 300.000:

297.895
aktivitas sebelumnya