Perusahaan Jerman merusakkan tanah air kami!

Mbah Paini menggugat industri semen di pegunungan Kendeng Jerman tidak boleh berinvestasi di industri yang merusak lingkungan hidup! (© BanksPhotos/iStock - Collage: Rettet den Regenwald)

HeidelbergCement akan memangkas pegunungan Karst Kendeng di pulau Jawa dan membangun pabrik semen di Pati. Penambangan di pegunungan karst ini akan menyebabkan bencana secara ekologis dan kemanusiaan. Penduduk menentangnya dengan sekuat tenaga.

Berita & update seruan

Kepada: Dr. Bernd Scheifele, ketua dewan, dan Bapak Andreas Schaller, pembicara

HeidelbergCement akan merusak pegunungan karst Kendeng yang secara ekologis dan budaya sangat penting bagi lingkungan. Perlawanan terus tumbuh.

Membaca surat

Dengan memasung kakinya dengan semen sembilan perempuan berprotes di depan istana negara. Udara yang lembab dan asap di Jakarta sangat tidak nyaman. Kaki mereka berdarah, namun mereka bertahan berhari-hari. Ibu Paini dan perempuan lainnya yang berasal dari pegunungan Kendeng di Jawa. „Bapak Presiden, selamatkan pegunungan Kendeng! Jika ruang hidup kami hancur dan rusak, bukan hanya hidup kami sekarang yang terancam juga masa depan anak cucu kami juga terancam!“

Pegunungan Kendeng, sebuah Karst dengan beberapa gua dan siklus air di bawah tanah melayani ribuan manusia, hewan dan tumbuhan dengan air, makanan dan udara bersih. Hutannya yang tumbuh di daerah terhuni mempunyai arti penting bagi ekologi dan iklim.

Ibu Paini juga menyampaikan seruannya pada Jerman, karena terdapat satu perusahaan Jerman yang akan mengolah Karst Kendeng menjadi semen: HeidelbergCement, sebuah perusahaan semen terbesar ketiga di dunia. Indocement, perpanjangan tangan HeidelbergCement di Indonesia dan merupakan perusahaan terkemuka di bidangnya di Indonesia dan terkenal dengan mereknya „Tiga Roda“, merencanakan pabrik semen baru di Pati.

Bagi masyarakat karst Kendeng merupakan bumi pertiwi. „Nyawijeke ati kanggo ibu bumi!“ ujar mereka dengan bahasa Jawa dan Jerman. „Kami tidak ingin bencana kemanusiaan dan ekologis“. Pada tanggal 16 Mei 2016 mereka berprotes di depan kedutaan Jerman di Jakarta: „Investasi Jerman jangan hanya memikirkan keuntungan, tapi juga mempertimbangkan manusia dan alam“ ujar mereka.

Perlawanan menentang HeidelbergCement ada sejarahnya: tahun 2008 PT Semen Gresik berencana membangun pabrik semen di Pati. Penduduk setempat memperkarakannya di Mahkamah Agung. Dan mereka menang. Tahun 2015 mereka juga menang melawan Indocement. Namun „industri semen tidak ada kapok-kapoknya!“

Latar belakang

warga-kendeng-dibela-masyarakat-jerman

Semen dan kerusakan lingkungan

Produksi semen selalu mengancam lingkungan hidup. Pertambangan mengubah lanskap, siklus air dan ekosistim. Produksi semen membutuhkan luar biasa energi yang besar.

Emisi gas rumah kaca dari penyinteran batu gamping berandil sebesar 5% dari emisi global.

Emisi industri semen di seluruh dunia empat kali lebih besar dari keseluruhan emisi pesawat terbang di dunia.

Bahan dasar membuat semen adalah batu kapur dan tanah liat. Bahan-bahan ini dipanaskan dengan pasir dan bijih besi dalam suhu 1450 derajat (proses sinter) dan digiling dengan bahan-bahan lainnya (pasir, batu kapur, abu dan gips) menjadi semen. Sebagai bahan pengikat semen merupakan komponen yang penting dari beton.

Kerusakan lingkungan:

1. Penggalian batu gamping merusak ekosistim, saluran air di bawah tanah dan lanskap;

2. Penggunaan energi yang besar (seperti bahan bakar dan listrik) dalam proses sinter;

3. Emisi dari produksi energi dan emisi dari proses sinter: Dari kalsium karbonat terbentuk kalsiumoxid (kapur mentah) dan karbon dioksida CO2 = 5% emisi CO2 di seluruh dunia berasal dari industri semen.

4. Debu, asap dan pencemaran udara di lingkungan pabrik semen. Asap beracun: nitrogen oksida, sulfur dioksida dlsb.

Industri semen di Indonesia

Produksi semen di Indonesia mempunyai tingkat pertumbuhan yang tinggi. Antara tahun 2009 dan 2013 produksi semen naik sekitar 50 %.

Penyebabnya adalah proyek infrastruktur yang besar dan proyek bangunan secara umum. Bagi Presiden Jokowi perluasan pelabuhan laut termasuk ke dalam strategi memperkuat Indonesia sebagai negara samudra dan memperluas Indonesia menjadi „poros maritim global“. Termasuk hal ini adalah 24 proyek pelabuhan strategis dan perluasan 1500 pelabuhan laut kecil, terutama di Indonesia Timur. Hubungan yang lebih baik dengan timur berarti juga akses yang lebih baik ke sumber dayanya. Dengan demikian hutan hujan terancam.

Tujuan peningkatan produksi adalah pemenuhan kebutuhan sendiri. Untuk itu beberapa pabrik semen sejak tahun 2009 dibangun dan lainnya dalam perencanaan. Beberapa analisa ekonomi menyatakan bahwa Indonesia dalam waktu dekat sangup memenuhi kebutuhannya sendiri.

Hanya sedikit produsen semen yang menguasai pasar. Produsen semen internasional yang besar turut serta, perusahaan Asia menjelajah ke Indonesia. Tiga perusahaan merupakan pemimpin pasar. Diantarnya adalah HeidelbergCement dengan anak perusahaannya Indocement.

Pemimpin pasar industri semen

Semen Indonesia dengan anak perusahaannya Semen Gresik, Semen Padang dan Semen Tonasa (2013: 25,5 juta ton = 45,5% pangsa pasar)

Indocement (mayoritas HeidelbergCement) dengan 12 pabrik (2013: 17,4 juta ton = 31,1% pangsa pasar; 2015: 20,5 juta ton)

Holcim Indonesia (2013: 7,8 juta ton = 13,8% pangsa pasar)

Produsen semen kecil lainnya, diantaranya Lafarge Cement

HeidelbergCement AG / Indocement

sejak 2001 lewat anak perusahaannya Birchwood Omnia Ltd memiliki 51% saham Indocement Tunggal Prakarsa (disingkat: Indocement). Indocement merupakan sebuah produsen semen, beton dan trass terkemuka di Indonesia.

heidelbergcement

Perusahaan Sahabat Mulia Sakti (SMS), induk Indocement Tunggal Prakarsa, merencanakan membangun sebuah pabrik semen baru di kabupaten Pati di Jawa. Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK) menggugat SMS di Pengadilan Tata Usaha Negara Semarang. SMS kalah dalam pengadilan. Pengadilan mengikuti tuduhan penggugat: ekologis, budaya dan ekonomi dari sistim karst tidak cukup diindahkan dan analisa mengenai dampak lingkungan tidak dilaksanakan dengan semestinya.

Selain membutuhkan batu kapur yang mengharuskan PT SMS menambang kawasan karst seluas 2.025 hektar, PT SMS juga akan mengorbankan 663 hektar lahan pertanian produktif untuk menambang tanah liat sebagai bahan baku semen, plus 180 hektar lagi untuk kawasan pabrik yang juga merupakan lahan pertanian produktif.

Atas pertanyaan Selamatkan Hutan Hujan pihak HeidelbergCement menyatakan bahwa proyek Pati sudah disetujui sebelumnya oleh semua pihak yang bersangkutan. Ternyata penduduk tidak diindahkan dalam perencanaan itu. Hak masyarakat adat Samin atas persetujuan yang dini, bebas dan terinformasi tidak dijamin. Kekhawatiran penduduk akan kekurangan air dan kekeringan yang akan menghancurkan eksistensi mereka, dijawab HeidelbergCement dengan mudah. Perusahaan ini akan menyediakan penduduk jerigen-jerigen yang dipenuhi air. Lebih lagi setelah keputusan pengadilan di Semarang anak perusahaan HeidelbergCement, Indocement, tetap menjalankan proyek tersebut

Kendeng – Pegunungan karst di Jawa

Karst merupakan formasi batu, terutama batu kapur yang terurai atau lapuk oleh karena hujan dan CO2. Dengan begitu terbentuklah lanskap dengan gua-gua dan menara-menara. Air meresap dari wilayah yang kering menuju lapisan yang dalam dan terpenuhi air. Karst merupakan sumber air yang penting.

Karst karena batu kapur dan gipsnya menjadi daya tarik industri semen.

Pegunungan karst Kendeng terbentang sepanjang kabupaten Blora, Rembang, Grobogan, Pati dan Kudus (Jawa Tengah) dan Tuban (Jawa Timur).

Keberadaannya menentukan bagi kehidupan masyarakat. Penggalian karst tidak hanya berdampak pada ekologi tapi juga perampasan tanah milik petani dan menghancurkan eksistensi mereka.

Karst di kabupaten Tuban telah rusak. Dan penduduk harus membayarnya dengan mahal: kekeringan yang panjang, berakhirnya pertanian, kemiskinan yang meluas akibat dari pengrusakan alam oleh karena arti „pembangunan“ yang disalah tafsirkan.

Kendeng - Ibu Bumi

„Karst Kendeng memberi kehidupan“, ujar penduduk. Tidak hanya kehidupan bagi petani, anak-anak yang bisa bermain di alam, tapi juga bagi tumbuhan dan burung-burung. „Karst Kendeng adalah bumi pertiwi.“

Hutan di karst Kendeng mempunyai arti sangat penting di wilayah yang padat penghuninya ini. Hutan berfungsi sebagai penyangga dan daerah resapan air, kawasan karst berfungsi penyerapan karbon di udara sebagai penyebab pemanasan global. Sehingga penambangan batu gamping di kawasan karst beresiko meningkatkan emisi karbon di kawasan itu dan sekitarnya.

Lebih dari 200.000 jiwa di Pati Selatan yang menggantungkan hidupnya ke pegunungan Kendeng. Terdapat 112 mata air di wilayah Grobogan dan Sukolilo Pati dengan debit relatif stabil, menjadi sumber air bagi ribuan keluarga dan sawah di Sukolilo. Di atas tanah yang subur di karst ditanam padi dan jagung, ubi kayu dan cabai. Binatang sapi mencari makan di padang rumput. Penduduk memelihara ayam, kambing, bebek, kerbau dan juga hidup dari menangkap ikan.

Disamping nilai ekonomis dan ekologisnya karst juga mempunyai arti budaya dan spiritual. Penduduk setempat menganggap pegunungan Kendeng sebagai „bumi pertiwi“ yang memberikan manusia tanah yang subur, air, udara bersih dan kebanggaan atas indahnya alam. Penggalian batu karst dalam skala besar akan merubah fungsi karst: sumber air akan lenyap. Hal ini akan merusak ladang dan pemukiman penduduk.

Kelelawar, burung migran dan Merak hijau

Pegunungan Kendeng merupakan habitat kelelawar endemik yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan.

Banyaknya jenis-jenis burung, kupu-kupu dan capung hidup bebas di pegunungan, misalnya Merak hijau yang indah itu. Migrasi burung dari Asia Utara ke daerah ini untuk menghindari musim dingin ditempat asalnya atau memanfaatkan Kendeng sebagai koridor migrasinya. 

Oleh karena pentingnya pegunungan Kendeng bagi rute migrasi burung maka karst harus dilindungi, demikian Karyadi Baskoro dari universitas Diponegoro: “Indonesia menjadi tempat yang penting bagi migrasi burung, dimana burung-burung yang bersal dari luar negeri sedang mencari iklim yang sesuai yaitu pada negara yang berada di lintasan garis khatulistiwa. Untuk itu, menjadi pertimbangan bagi beberapa negara, jika suatu daerah menjadi koridor lintasan migrasi burung, maka tempat itu harus dilindungi.”

Homo erectus

Selain kekayaan ekologis, Pegunungan Kendeng juga memiliki kekayaan budaya yang tak terhitung nilainya yang tersebar di banyak titik di pegunungan kapur ini. Situs arkeologi Dampo Awang di Kecamatan Tambakromo, Candi kuno di makam para Sunan dan situs pewayangan di Kecamatan Sukolilo, serta Kecamatan Kayen Kendeng Utara.

Karst dan gua-gua ditakdirkan untuk penelitian prasejarah. Di wilayah Kendeng terdapat banyak fosil yang sangat berguna bagi pengetahuan evolusi manusia dan sejarah migrasi manusia purba. Di sepanjang bagian timur rantai pegunungan Kendeng telah ditemukan kerangka homini dan vertebrata. Tahun 1891 Dubois di daerah Trinil menemukan kerangka manusia jawa (Homo erectus trinilensis) yang ditafsir berusia satu juta tahun. Dan sekitar tahun 1934 seorang paleoantropolog Jerman bernama Koenigswald menemukan kerangka homo erectus yang lebih muda dan tumbuh-tumbuhan di masa pleistosen. Banyak peninggalan-peninggalan homo yang ditemukan di teras Ngandong, di Kedung Brubus dan di dekat Mojokerto (Jawa Timur).

Perlawanan

Nyawijeke ati kanggo ibu bumi: berbuatlah dengan hati dan pikiran bagi bumi pertiwi kita: dengan moto ini Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK) berjuang menentang industri semen. Moto ini menggambarkan kesatuan yang erat masyarakat, terutama perempuan, terhadap alam umumnya dan karst Kendeng khususnya. Perjuangan menentang industri semen yang rakus akan batu kapur di karst berlangsung bertahun-tahun.

Semen Gresik, anak perusahaan semen negara terkemuka Semen Indonesia, pada tahun 2008 di kabupaten Pati ingin membangun sebuah pabrik semen. Penduduk setempat memperkarakannya di Mahkamah Agung dan tahun 2009 berhasil memenangkannya. Namun tekanan industri semen di wilayah karst meningkat. Berkat lobby intensif Sahabat Mulia Sakti (SMS), anak perusahaan Indocement, berhasil memperoleh ijin penggalian batu kapur. Menurut JM-PPK analisa dampak lingkungan tidak berjalan dengan semestinya dan tidak mengindahkan ekologi karst pegunungan Kendeng.

Demikian keputusan Pengadilan Tata Usaha Negara Semarang pada 17.11.2015. Dengan demikian Indocement kalah melawan JM-PPK. Tetapi perjuangan belum berhenti sampai disitu. SMS melanjutkan rencananya yang didukung oleh „pemerintah provinsi yang hanya melihat keuntungan saja, tetapi tidak pada kepentingan penduduk dan alam“, demikian keterangan pers JM-PPK.

Keramahan – Samin atau Sedulur Sikep

Di kaki pegunungan Kendeng hidup masyarakat Samin atau Sedulur Sikep, seperti yang mereka sebut dirinya sendiri. Mereka berbahasa Jawa setempat dan memelihara tradisinya. Sejarah masyarakat Samin dimulai pada abad 19, sebagai pergerakan sosial menentang penguasa kolonial Belanda. Perjuangan ini berupa perjuangan tanpa kekerasan, pertanian mandiri dan kebebasan memilih layanan negara.

Hingga kini hubungan mereka pada alam terus terbina oleh pemikiran dan tindakan mereka yang ekologis dan bersama. Orang bisa memandang Samin sebagai salah satu kebersamaan ekologis di Jawa yang terakhir. Mereka menyebut dirinya sebagai masyarakat adat dan anggapan ini didukung oleh AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara).

Sejak 2008 masyarakat Samin hidup dalam perjuangan menentang industri semen dan pemerintah. Mereka sadar bahwa penggalian pegunungan Kendeng akan berarti akhir kehidupan mereka. Perempuan mempunyai fungsi penting dalam perjuangan mendapatkan kesederhanaan diri sendiri dan kemudahan.

JM-PPK – Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng

Perjuangan dipimpin dan diorganisasi oleh JMPPK. Tuntutannya adalah:

Lindungi karst, keanekaragaam hayati dan masyarakat adat.

Anggota JM-PPK adalah masyarakat adat Samin dan warga di luar masyarakat Samin yang berada di Kecamatan Tambakromo dan Kayen dalam jumlah yang besar. JM-PPK dipimpin oleh Gunretno. Perempuan lainnya yang mempunyai arti penting dalam perjuangan adalah Paini dan Gunarti dari Pati, Sukinah dari Rembang dan Sutini, Giyem, Karsupi, Deni, Surani, Ambarwati, Murtini dan Ngadinah. Mereka semua pada bulan Mei 2016 telah memasung kakinya dengan semen di depan istana negara.

Keterangan Pers JM-PPK 16 Mei 2016

Dalam rangka memperjuangkan ruang hidup petani Kendeng, kami yang tergabung dalam Jaringan masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK), pada hari Senin tanggal 16 Mei 2016 hendak melakukan audiensi dengan para pimpinan Kedutaan Besar Jerman yang ada di Jakarta. Upaya ini kami tempuh sebagai bagian dari rangkaian perjuangan damai kami untuk tetap mempertahankan tanah garapan kami dari berbagai upaya perusakan ataupun pengalihan fungsi lahan pertanian sebagai lahan pertambangan.

Seperti diketahui PT. Sahabat Mulia Sakti (SMS), sebagai anak perusahaan dari PT. Indocement Tunggal Prakarsa, hendak melakukan ekspansi pembangunan pabrik semen dan penambangan di wilayah Kecamatan Kayen dan Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati. Padahal Kecamatan Kayen dan Kecamatan Tambakromo adalah kawasan padat penduduk dengan banyak sumber mata air yang dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan hidup, rumahtangga dan untuk pertanian.

Heidelberg Cement AG yang dipegang oleh Birchwood Omnia Ltd (perusahaan milik Jerman) adalah pemilik saham terbesar (51%) dari PT. Indocement Tunggal Prakarsa . Untuk itulah kami merasa perlu melakukan audiensi dengan pimpinan Kedutaan Besar Jerman untuk memberikan masukan yang benar sebagai dasar membuat kebijakan, khususnya perihal ekspansi pembangunan pabrik semen, agar investasi Jerman di Indonesia khususnya di Pegunungan Kendeng tidak hanya memperhatikan aspek ekonomi tetapi juga memperhatikan aspek sosio budaya dan daya dukung serta daya tampung wilayah.

Upaya litigasi telah kami lakukan, dengan kemenangan di pihak warga pada putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang pada tanggal 17 November 2015. Tetapi perjuangan kami tidak berhenti sampai disini. Upaya banding yang dilakukan Pemda Pati maupun PT. SMS menunjukkan bahwa mereka memang tidak peduli akan keberlangsungan hidup jangka panjang kami dan anak cucu mendatang. Yang ada di pikiran mereka hanya kepentingan sempit atas nama “investasi” yang jelas-jelas nantinya hanya akan memberangus kehidupan petani di Pegunungan Kendeng.

Mundurnya rencana pembangunan pabrik semen oleh PT. Semen Gresik pada tahun 2009 di Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, sebagai konsekuensi dari upaya litigasi hingga tingkat kasasi Mahkamah Agung (MA) yang dimenangkan warga, tidak membuat surut berbagai perusahaan semen untuk terus menerus berusaha dengan berbagai upaya, mulai dari pengkondisian Perda yang semata-mata mengakomodasi kepentingan investasi hingga proses AMDAL yang tidak benar, yang mengancam kelestarian Pegunungan Kendeng yang seharusnya wajib kita lindungi.

Pegunungan Kendeng Utara adalah kawasan karst yang terbentang dari Kab. Tuban, Kab. Rembang, Kab. Blora, Kab. Grobogan, Kab. Pati dan Kab. Kudus. Kelestarian Pegunungan Kendeng Utara adalah harga mati bagi kami para petani. Tidak hanya demi lestarinya lahan garapan kami yang sekaligus adalah jati diri kami sebagai petani, lebih dari itu adalah demi terjaganya ekosistem yang dapat menjamin pasokan air bersih bagi terselenggaranya hidup dan kehidupan semua makhluk, tidak hanya di Jawa Tengah tetapi di seluruh Jawa. Fungsi vital karst sebagai daerah resapan air dan berbagai macam situs budaya yang ada, membuat kami bertekad untuk terus menyelamatkannya dari berbagai upaya perusakan dengan kedok “pembangunan”. Rusaknya kawasan karst di Tuban yang dibayar mahal dengan berbagai bencana kekeringan, hilangnya mata pencaharian petani, dan akhirnya justru menciptakan kemiskinan yang lebih besar adalah contoh buram perusakan alam atas nama pembangunan. Kami tidak ingin bencana kemanusiaan ini meluas.

Pembangunan tidak berarti mendatangkan investasi sebesar-besarnya, tanpa memperhatikan daya dukung dan daya tampung wilayah masing-masing. Apalah artinya berdirinya pabrik semen di wilayah Pegunungan Kendeng kalau nantinya justru akan memusnahkan “kehidupan”. Memusnahkan pertanian yang jelas-jelas menjadi lumbung pangan, memusnahkan ekosistem yang pasti berdampak buruk bagi kehidupan saat ini dan masa datang.

Puncak kekhawatiran masyarakat dunia terhadap keberlanjutan kehidupan terletak pada 7 persoalan yaitu : ketahanan pangan, kesehatan, kelestarian alam, kemiskinan, pendidikan, perubahan iklim global, dan gender. Tak bisa dipungkiri Indonesia mendapatkan peran penting dalam memberi jawaban atas problem-problem tersebut, terutama yang berkaitan dengan kelestarian alam. Oleh karena itu Indonesia tidak bisa dibiarkan sendirian. Kepedulian lintas negara, termasuk dari Jerman sangat dibutuhkan agar Indonesia mampu memberi jawaban atas problem dunia tersebut. Salah satunya adalah dengan bersikap bijaksana, tidak membiarkan investasi Jerman masuk ke industri yang berpotensi merusak lingkungan Indonesia. Mari tangani ibu bumi dengan akal dan hati.

Salam Kendeng. LESTARI!!

Surat

Kepada: Dr. Bernd Scheifele, ketua dewan, dan Bapak Andreas Schaller, pembicara

Bapak Scheifele, Bapak Schaller yang terhormat,

Masyarakat di seputar wilayah Tambakromo dan Kayen di kabupaten Pati menentang perencanaan pabrik semen dari perusahaan PT Indocement, dimana Anda memiliki saham terbesar di Indocement.

Untuk pabrik semen itu akan digali pegunungan karst Kendeng yang mempunyai nilai ekologis dan sosial politik yang tinggi. Kehidupan ribuan penduduk disana tergantung dari karst, fungsi penyimpanan air dan karbon serta alamnya.

HeidelbergCement tahu kerusakan akibat penggalian di karst. Tetapi perusahaan ini tetap saja bersikeras.

Anda menyatakan bahwa proyek di Pati sudah mendapat persetujuan dari seluruh pihak. Tetapi kenyataannya penduduk tidak dilibatkan dalam perencanaan ini dan tidak diberikannya hak masyarakat adat Samin atas persetujuan sebelumnya, bebas dan terinformasi. HeidelbergCement melambangkan diri di benderanya sebagai pelindung alam. Tetapi slogan ini tidak boleh diartikan sebagai penghijauan dari ekosistim yang telah dirusak dan sebagai penyediaan jerigen air atas pengganti eksistensi yang telah dirusak.

Sejauh yang saya ketahui, Anda tidak cukup memperhatikan aspek ekologis, budaya dan ekonomis dari sistim karst dan tidak melakukan analisa dampak lingkungan dengan semestinya. Pandangan masyarakat ini juga ditanggapi oleh Pengadilan Tata Usaha Negara

Situasi lingkungan hidup di pulau Jawa yang sangat peka benar-benar diabaikan. Sebab dari layanan ekologi karst Kendeng lebih banyak penduduk yang tergantung darinya. Ahli biologi dan ilmuwan lainnya memperingatkan dampak terhadap biodiversitas, migrasi burung, penelitian dan iklim lokal dan regional.

Di kabupaten tetangga Tuban yang karstnya sudah terdegradasi, Anda bisa melihat sendiri kerusakan ekologis dan sosial.

Perusahaan Jerman tidak boleh menjadi penyebab bencana lingkungan yang bisa diprediksi ini. Oleh karena itu HeidelbergCement harus menghentikan pabrik semen di Pati dan penggalian pegunungan karst Kendeng.

Dengan hormat,

Berita & update

berita | 11 Mei 2017

Rapat umum HeidelbergCement: 110.000 tandatangan yang menentang perusakan alam di Jawa telah diserahkan.

Protes di depan balai kongres Heidelberg: aktivis mencor kaki mereka dengan semen

„Hormatilah ibu bumi“ begitulah tuntutan petani ibu Gunarti kepada para pimpinan perusahaan HeidelbergCement. 10.000 kilometer telah ditempuh ibu Gunarti agar bisa memberitakan pada rapat umum pemegang saham perusahaan tentang perusakan wilayah karst di kampung halamannya oleh perusahaan semen. Ia juga telah menyerahkan petisi dari Selamatkan Hutan Hujan.

selanjutnya

berita | 16 Jun 2016

Aksi Solidaritas 2 Tahun Perjuangan Kendeng & Aksi Kamisan di Berlin

Hari ini, band Simponi bersama Rettet den Regenwald & Watch Indonesia!, melakukan “aksi solidaritas 2 tahun perjuangan warga Kendeng melawan pabrik semen” di 4 lokasi penting & bersejarah di ibukota Jerman, Berlin.

selanjutnya

Petisi ini tersedia dalam bahasa-bahasa berikut:

Tolong tandatangani

Bantulah kami mencapai 150.000:

142.083
aktivitas sebelumnya