Iklim: Penyimpanan karbon di ekosistim tertentu

Hutan dan lanskap alam menyimpan jumlah karbon yang berbeda banyaknya. Kami disini telah merangkum berbagai ekosistim, dari hutan, rawa dan sabana sampai ke lautan.

Penyimpanan karbon ekosistim tertentu

Hutan dan lanskap alam menyimpan jumlah karbon yang berbeda banyaknya. Kami disini telah merangkum berbagai ekosistim:

Hutan hujan tropis

Kampung Wambon, Papua, dari atas Boven Digoel (Papua, Indonesia) punya hutan hujan tropis yang masih utuh (© Pusaka)

secara keseluruhan menyimpan 262 gigaton karbon (Gt C) – ini adalah dua pertiga dari jumlah keseluruhan 483 Gt C yang tersimpan di vegetasi dunia. Setiap hektar hutan hujan terdapat antara 120 dan 400 ton karbon, tergantung dari vegetasi dan permukaan tanah.

Untuk perbandingan: Di hutan zona iklim sedang terdapat 47 Gt C, sedang di daerah hutan boreal 54 Gt C.

Rawa gambut dan hutan rawa gambut

seekor gajah dibawah pohon Baobab Di sabana, pelestarian lapisan humus di permukaan tanah penting bagi perlindungan iklim. (© commons.wikimedia.orgCC BY-SA 2.0)

Sangat banyak karbon yang diiikat di dalam lapisan humus di permukaan tanah. Banyak ekosistim yang menyimpan lapisan biomassa yang sudah mati sehingga laipsan ini selalu menjadi lebih tebal. Di rawa gambut lapisan humus atau massa organik bisa mencapai beberapa meter ketebalannya dan bisa menyimpan jumlah karbon yang besar.

Hutan rawa gambut di Indonesia contohnya mengikat hingga 6000 ton karbon per hektar. Tidak ada negara lainnya yang memiliki hutan rawa gambut yang lebih luas dari Indonesia. Sekitar 22 juta hektar (hampir sepuluh persen dari dataran Indonesia) menutupi banyak dataran rendah di pesisir Sumatra, Kalimantan dan Papua (Papua Barat). Di sana hutan tersebut ditebang dan dibakar untuk kebun sawit dan kebun kayu industri lainnya.

Perusakan hutan rawa gambut diseluruh dunia dengan lebih dari tiga miliar ton CO2 pertahunnya berandil besar pada perubahan iklim.

Di negara Jerman kebakaran rawa juga mempunyai dampak buruk. Contoh kota Meppen: Awal September 2018 gambut di sana terbakar karena tentara Jerman melakukan uji coba raket: Tanggal 21 September telah terbakar 8 kilometer persegi. Menurut organisasi Nabu telah terlepas CO2 antara 800.000 dan 1,4 juta ton oleh kebakaran ini. Jumlah emisi ini sama dengan jumlah yang dihasilkan aktivitas 80.000 hingga 144.000 manusia di Jerman dalam setahun.

Padang rumput/sabana, stepa dan tundra

menyimpan juga karbon yang sangat banyak – keseluruhan sekitar 12 hingga 20 % karbon. Kira-kira 25% luas bumi (sekitar 3,4 miliar hektar) tertutup oleh ekosistim-ekosistim ini.

Seperti pada rawa gambut, sekitar 80% karbon yang terikat dalam ekosistim di padang rumput diikat di dalam lapisan humus di permukaan tanah yang tingginya sering sampai 1 meter atau lebih. Berbeda dengan hutan hujan tropis, vegetasi padang rumput hanya mengandung sekitar 20% karbon. Sebagian besar tersimpan di bawah tanah, di akar dan umbi. Tumbuh-tumbuhan di atas permukaan tanah hanya mengandung 20 sampai 40% karbon.

Jika padang rumput terbakar, dimana ini sering terjadi, hanya sebagian kecil karbon yang terikat dilepas – ini berlaku pada bagian tumbuhan di permukaan tanah. Akar dan umbi serta lapisan humus hampir tidak terpengaruh. Sesaat setelah terbakar tumbuh tunas baru dan menggantikan bagian yang terbakar.

Tapi semua padang rumput di dunia sekitar seperempat darinya digunakan dengan intensiv sebagai pertanian, sehingga lambat laun lapisan humus menipis dan melepaskan karbon yang disimpan. Pelestarian lapisan humus di permukaan tanah karena itu sangat penting bagi perlindungan iklim.

Lautan dunia

Bagian terbesar karbon yang disimpan bumi kita larut sebanyak 37.100 Gt C di laut samudra. Diantaranya terdapat 900 Gt C di permukaan laut yang saling bertukar karbon dengan atmosfer.

Kurang dari seperseribu karbon terdapat di permukaan tanah: Keseluruhannya 122.576.000 gigaton karbon selamanya tersimpan di batu-batuan di perut bumi (kerak dan mantel bumi)