Hutan gambut - dimana air memeluk bumi

Melestarikan hutan rawa gambut adalah langkah penting untuk mengurangi emisi karbondioksida. Namun kawasan ex hutan gambut di Kalimantan dan di Sumatera sering terbakar.

Langit mendung dan sehari sebelumnya hujan. Penduduk di Pulang Pisau lega. Hujan adalah hal yang baik karena tanah gambut menjadi lembab. Manusia dan hewan bebas dari kebakaran. Pulang Pisau terletak di Kalimantan, dimana 25 tahun yang lalu telah terjadi salah satu bencana lingkungan terbesar di Indonesia. Untuk proyek PLG - Lahan Gambut Sejuta Hektar - ditebanglah hutan rawa gambut. 

Di hutan gambut air dan tanah saling berpelukan. Dalam waktu lebih dari 5000 tahun muncul daerah terpadu atau simbiotis yang merupakan rumah bagi berbagai hewan dan tumbuhan. Penduduk datang ke sini untuk menangkap ikan. Mereka mengunakan rumbia / pohon sagu sebagai makanan pokok, tumbuhan rotan untuk mebel, kenari illipe, pohon karet liar dan berbagai tanaman obat. Selebihnya mereka membiarkan hutan rawa gambut dengan tenang. Tidak saja karena perjalanan jauh dengan kaki sangat melelahkan jika perahu tidak bisa lagi berjalan di air yang hitam, tapi juga karena mereka tahu bahwa hutan gambut melindungi keberlangsungan hidup mereka.

Lahan yang terbakar

Para aktivis dari Kaliptra Andalas di Kampar Dua aktivis dari Kaliptra Andalas mengamankan bukti-bukti penebangan dan saluran drainase di rawa gambut. Lahan-lahan yang sudah dikeringkan digunakan untuk perkebunan. (© Kaliptra Andalas)

Hanya satu tahun setelah pembukaan hutan gambut untuk PLG telah terjadi bencana yang menakutkan: Tanah gambut yang botak atau dikosongkan terbakar dan sejumlah besar karbon dioksida terlepas. Tahun 1997 emisi gas rumah kaca di Indonesia berjumlah hampir sepertiga dari emisi dunia. Hanya Amerika Serikat dan Cina yang lebih banyak melepaskan emisi, terutama dari sektor energi, transportasi dan industri.

Penyebab utama bencana kebakaran lahan gambut adalah pembukaan hutan untuk perkebunan dan saluran drainase agar lahan gambut bisa dikeringkan. Oleh karena itu tiap tahunnya ada kebakaran di kawasan hutan hujan karena setiap tahun lahan baru dibuka untuk perkebunan dan pertambangan. Tahun 2015 dan 2019 bencana Karhutla dramatis lagi karena di tahun-tahun sebelumnya banyak lagi hutan-hutan rawa gambut yang ditebang dan dikeringkan dari tahun-tahun sebelumnya.

Kebakaran di Indonesia tahun 2015 telah mengakibatkan 2,6 juta hektar hutan, perkebunan dan lahan gambut terbakar. Dalam beberapa bulan saja kebakaran yang tidak bisa di kontrol lagi telah menyebabkan ribuan ton karbon dioksida – jumlahnya berlipat-lipat dari pelepasan karbondioksida tahunan di Jerman. Jauh lebih buruk bagi penduduk adalah konsentrasi partikel debu yang sangat tinggi akibat dari kebakaran lahan gambut.

Gambut sebagai penyimpan karbon yang efisien

Hutan rawa gambut tergenang oleh air dan berawa. Selama ribuan tahun sisa tumbuhan tidak begitu membusuk karena di bawah air dan udara hampa. Gambut, sebuah masa organik, kaya akan karbon dan hampir mudah terbakar seperti batubara coklat. Dengan alasan iklim maka seharusnya semua tanah gambut dan hutan rawa dilindungi. Tanpa perlindungan yang pasti dunia tidak akan pernah mencapai tujuan iklimnya, demikian peringatan para ilmuwan.

27 persen semua rawa gambut tropis terdapat di Indonesia (22 juta hektar), terutama tidak jauh dari pantai-pantai Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Papua

Hutan rawa gambut tropis menyimpan karbon ditanah dan di vegetasi hingga 50 kali lebih banyak dari pada hutan hujan lainnya. Hutan ini dicirikan oleh kubah gambut, puluhan kilometer struktur gambut yang luas dengan kedalaman 10 hingga 20 meter. Hutan gambut merupakan rumah bagi biodiversitas yang unik dan spesies hewan yang terancam punah, seperti orang utan, tapir dan harimau sumatra. Hutan gambut merupakan sebuah ekosistem yang sangat berharga, berperan penting sebagai penyimpan air, pencegah banjir, kekeringan dan kebakaran. Selain itu hutan yang kaya akan ikan ini memberi manusia makanan dan produk-produk hutan non-kayu.

Mitra kami di Sumatra dan Kalimantan aktif dalam jaringan “Pantau Gambut”. Mereka berkomitmen agar rawa gambut tidak disewakan pada perusahaan. Pemantau gambut menuntut pihak berwenang tanggung jawab atas pelanggarannya. “Para pemantau gambut” ikut mengulurkan tangan jika tanah gambut yang kering kembali dibasahi, mereka akan mengisi parit drainase dan menanami rawa dengan jenis tumbuhan yang khas. Mereka membawa habitat kembali ke penghuni hutannya, orang utan Kalimantan dan harimau Sumatra.