Perusahaan kertas Moorim merusak hutan hujan di Papua

Seorang asli Papua dari marga Gebze, Merauke Masyarakat adat di Papua mempertahankan hutannya menentang perusahaan kertas Moorim (© Pusaka)

21 Mar 2022

Hutan-hutan yang lebat dimana di dalamnya hidup burung kasuari dan kangguru pohon adalah surga biodiversitas dan budaya masyarakat adat. Namun hutan-hutan itu sejak bertahun-tahun ditebang dengan brutal demi minyak sawit, serpihan kayu dan kertas. Menurut sebuah studi, salah satu pelakunya adalah perusahaan kertas Moorim asal Korea Selatan.

Satu tahun investigasi di Papua dituangkan dalam laporan "Trashing the last fainforest" ("Mencampakkan hutan hujan terakhir")

Hasil studi: Kertas dari Moorim mencampakkan hutan hujan terakhir: bagaimana harta karun Papua berakhir di pembuangan sebagai sampah kertas. Penulis studi ini tidak bisa memastikan apakah rantai pengiriman kertas bebas dari penebangan.

Mitra kami Pusaka bersama dengan Environmental Paper Network (EPN), Mighty Earth, Solutions for Our Climate (SFOC), Korean Federation for Environmental Movement (KFEM) und Advocates for Public Interest Law (APIL) telah meneliti produksi kertas yang katanya ramah lingkungan itu.

Plasma Nutfah Marind Papua (PNMP), anak perusahaan Moorim, di enam tahun belakangan ini telah meratakan hutan hujan seluas 6.000 hektar. Dikhawatirkan akan lebih parah lagi sebab PNMP mempunyai konsesi lebih dari 64.000 hektar hutan hujan.

Menurut laporan tersebut, Moorim menebang hutan ulayat masyarakat adat yang membentuk kehidupan dan budaya mereka. Aktivitas perusahaan juga tidak berhenti di tempat tambak ikan, berburu, kebun sagu, bahkan di tempat keramat. Moorim mengabaikan hak-hak masyarakat adat dan hak mereka atas Persetujuan Bebas, Didahulukan dan Diinformasikan (FPIC).

Provinsi Papua terkenal dengan flora dan faunanya yang luar biasa. Terletak diantara Asia dan Australia, Papua memiliki spesies yang tak terhitung jumlahnya, sebagian besar belum diteliti secara ilmiah. Terutama di hutan-hutan wilayah penebangan PNMP hampir belum diteliti secara biologis.

Sejak lama hutan-hutan di Papua berdiri utuh. Hutan-hutan itu sulit ditembus dan sangat jauh dari jalan perdagangan. Namun sejak beberapa tahun berdiri di banyak wilayah perkebunan besar yang berproduksi untuk kebutuhan pasar dunia. Beberapa ekosistem telah jadi korban perdagangan global. Masyarakat adat dirampas tanahnya, diancam dan digusur.

„Kertas dijual di seluruh dunia sebagai produk yang ramah lingkungan, padahal asalnya dari penebangan dan pelanggaran hak-hak masyarakat adat“, ujar Sergio Baffoni dari Environmental Paper Network (EPN). „Kita tidak boleh mengorbankan sisa surga di bumi kita menjadi barang yang sekali dipakai langsung dibuang“.

„Moorim tidak menghargai hak-hak masyarakat adat dan menyebabkan kerugian secara ekonomi sosial, budaya dan ekologis“, demikian Franky Samperante – direktur Pusaka. „Masyarakat adat sekarang tidak dapat lagi memenuhi kebutuhannya akan pangan dan air serta pendapatan dan harmoni. Hal ini tidak bisa dikompensasi dengan cara yang tidak adil. Pemerintah harus memberikan sanksi atas pelanggaran yang dilakukan perusahaan.“

Waktunya hampir habis untuk menyelamatkan iklim, sisa hutan di bumi kita serta manusia yang hidupnya tergantung dari hutan. Kita harus memperbanyak usaha kita dan mematahkan hubungan antara produksi dengan barang dan perusakan habitat dengan wilayah yang sangat berharga, demikian pernyataan laporan tersebut.

Moorim tidak boleh bersembunyi dibalik lebel „ramah lingkungan“. Jika Moorim tidak mau merubah metodenya maka para pembeli, investor dan mitra bisnis harus menghentikan hubungan dagangnya, demikian tuntutan penulis.

Laporan dalam bahasa Inggris

Laporan dalam bahasa Korea