Skip to main content
Cari
Bagian Poster Film Pawang Uteun
Masyarakat Beutong Ateuh Bersuara Lewat Film “Pawang Uteun”: Hutan Rusak, Bencana Datang (© APEL Green Aceh)
Judul Film Pawang Uteun
Ketika hutan terus dibuka, sungai mengeruh, satwa kehilangan rumah dan ruang hidup rakyat dirampas, saatnya kita bersatu, bersuara dan bergerak bersama (© APEL Green Aceh / RdR)

Pawang Uteun Beutong Ateuh - Penjaga Hutan Adat

4 Mei 2026Indonesia: Pawang Uteun—si Penjaga Hutan Adat—memainkan peran penting dalam pelestarian hutan sesuai tradisi masyarakat adat Aceh. Film Pawang Uteun menggambarkan bagaimana masyarakat di kecamatan Beutong Ateuh, Ekosistem Leuser, Aceh, berjuang melawan deforestasi dan penambangan emas.


Poster film Pawang Uteun
© APEL Green Aceh

Kabut masih menggantung di pegunungan Beutong Ateuh ketika suara-suara dari pedalaman itu direkam dalam film dokumenter Pawang Uteun Beutong Ateuh. Suara tentang sungai yang mulai menyusut, udara yang semakin panas, hingga banjir dan longsor yang datang membawa lumpur ke permukiman warga.

Bagi masyarakat adat Beutong Ateuh, hutan bukan sekadar bentang alam hijau. Hutan adalah sumber kehidupan, ruang budaya, sekaligus warisan leluhur yang harus dijaga untuk generasi mendatang.

Pesan itu menjadi inti film dokumenter Pawang Uteun Beutong Ateuh yang diproduksi oleh APEL Green Aceh bersama Selamatkan Hutan Hujan. Film ini merekam suara masyarakat adat yang selama bertahun-tahun menjaga kawasan hutan di antara dua bentang ekologis penting Aceh: Ekosistem Leuser dan Ekosistem Ulu Masen.


lebih lanjut Masyarakat Beutong Surati Presiden, Tolak Tambang Emas di Jantung Hutan Aceh


 

Inilah tanah Beutong, tanah nenek moyang kami yang diwariskan kepada kami 

Di kawasan yang masih memiliki tutupan hutan itu, masyarakat menggantungkan hidup dari hasil alam seperti kopi, kemiri, pinang, kakao, rotan, hingga tanaman obat. Bagi warga, kelestarian hutan menentukan keberlangsungan hidup masyarakat.

Kenapa kami menjaga hutan? Karena satu pohon saja ditebang, berapa banyak oksigen yang hilang di bumi ini

Bagi masyarakat Beutong Ateuh, menjaga hutan juga berarti menjaga sumber air dan melindungi kampung dari ancaman bencana. Kekhawatiran itu semakin besar setelah kawasan tersebut diterjang banjir bandang dan longsor pada akhir November 2025.

Bencana itu menghancurkan permukiman warga, merusak aliran sungai, dan menyebabkan krisis air bersih di sejumlah titik pengungsian. Warga menilai kerusakan hutan menjadi salah satu faktor yang memperbesar risiko bencana di kawasan tersebut.

Masyarakat Beutong sekarang sudah merasakan panas yang luar biasa. Air sungai juga semakin menyusut setelah banjir

Film ini juga menyoroti meningkatnya ancaman deforestasi di Aceh. Sepanjang 2025, kehilangan tutupan hutan disebut meningkat dibanding tahun sebelumnya. Kondisi itu dinilai memperlemah fungsi ekologis hutan sebagai penyangga kehidupan sekaligus pelindung kawasan dari bencana hidrometeorologi.

Di tengah ancaman tersebut, masyarakat adat Beutong Ateuh terus mempertahankan sistem penjagaan hutan berbasis adat melalui program Pawang Uteun Ruhnya Aceh. Program itu melibatkan masyarakat sebagai pemantau sekaligus penjaga kawasan hutan.

Hutan mereka, mereka yang harus menjaganya, bukan perusahaan-perusahaan atau izin-izin lain.” Syukur, Direktur APEL Green Aceh

Masyarakat berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat memperkuat perlindungan kawasan hutan adat dan menghentikan berbagai aktivitas eksploitasi yang dinilai mengancam ruang hidup warga.

Menurut adat kami, apabila manusia menjaga hutan, hutan juga menjaga manusia. Apabila manusia merusak hutan, hutan juga akan berakibat kepada manusia

Lewat Pawang Uteun Beutong Ateuh, masyarakat adat Beutong Ateuh tidak hanya menyampaikan kisah tentang hutan, tetapi juga peringatan tentang masa depan Aceh. Ketika hutan hilang, yang lenyap bukan hanya pepohonan, melainkan juga sumber air, ruang hidup, dan keselamatan generasi mendatang.

Halaman ini tersedia dalam bahasa berikut:

Petisi aktual, latar belakang dan informasi lanjutan

Pesan buletin kami sekarang.

Tetap up-to-date dengan newsletter gratis kami - untuk menyelamatkan hutan hujan!