Pelajaran dari korona: perlindungan alam harus diutamakan

pembukaan hutan hujan Ketika hutan dirusak, resiko akan epidemi baru akan naik (© Luoman/istockohoto.com)

15 Apr 2020

Pandemi COVID dimulai di pasar hewan liar, dimana virus dari hewan menjalar ke manusia. Namun terutama oleh perusakan alam setiap saat wabah penyakit baru bisa berjangkit. Meskipun begitu perlindungan alam di pemerintah senantiasa tidak penting. Sudah saatnya pemerintah harus memberikan prioritas tertinggi pada pelestarian alam.

Para ilmuwan sejak bertahun-tahun memperingatkan bahwa munculnya berbagai penyakit dapat dijelaskan akibat penetrasi manusia ke alam yang sebelumnya tidak tersentuh – misalnya pembukaan hutan dan pembangunan jalan di daerah terpencil mempermudah penyebaran penyakit virus. Eksploitasi penggunaan lahan, penyebaran monokultur atau penggundulan hutan menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati dan mengubah komposisi populasi mamalia.

Kurangnya keanekaragaman hayati berarti lebih banyak hewan dari spesies yang sama di habitat yang sama. Jika ekosistemnya tidak seimbang penyakit menular dapat menyebar dengan lebih gampang. Keanekaragaman hayati dan ekosistem yang sehat dapat melindungi akibat bencana penyebaran penyakit menular.

Setelah epidemi SARS tahun 2002/2003 para ilmuwan telah memperkirakan bahwa suatu saat akan berjangkit virus korona baru. COVID-19 membuktikan kebenaran perkiraan itu. Tapi tidak ada yang mendengar sebelumnya.

Professor Josef Settele dari Pusat Penelitian Lingkungan Helmholtz (UFZ), Co-ketua Laporan Global Dewan Keanekaragaman Hayati Dunia: "Pelestarian ekosistem utuh dan keanekaragaman hayati pada umumnya dapat mengurangi penyakit menular. Manusia bergantung pada fungsi ekosistem yang beragam. Dengan perusakan ekosistem kita juga menghancurkan sumber penghidupan kita seperti yang diperlihatkan oleh epidemi korona."

Ahli peringatkan corona bukan pandemi terakhir yang dihadapi dunia. Di masa mendatang, malapetaka lain bisa terjadi kembali selama manusia terus menghancurkan alam liar, begitu ahli ekologi kelautan Dr Enric Sala. "Saya benar-benar yakin bahwa akan ada lebih banyak penyakit seperti ini di masa depan jika manusia terus menghancurkan alam, menggunduli hutan, menangkap binatang liar menjadi binatang peliharaan, makanan, atau obat-obatan." 

Kini masyarakat dan politik harus sadar. „Ilmu pengetahuan mengatakan bahwa perusakan ekosistim membuat wabah penyakit hingga pandemi jadi lebih mungkin“, ujar Ibu Menteri Lingkungan Hidup Jerman Svenja Schulz.

Celakanya ini adalah omong kosong dan perlindungan alam ternyata tidak penting. Sepertinya istilah „Lingkungan Hidup“ tidak termasuk dalam program pemerintah. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tidak ikut menentukan bagaimana selanjutnya setelah masa krisis korona – hanya kementerian keuangan, ekonomi, pekerjaan umum dan perhubungan yang berbicara.

Sejak bertahun-tahun pemerintah menjalankan politik yang menentang alam. Kebijaksanaan biofuel yang gagal menyebabkan hutan di Indonesia dibakar untuk minyak sawit. Perjanjian perdagangan bebas menyokong impor kedelai. Dampaknya: sabana Cerrado in Brasil harus dirusak.

Apa yang kita belajar dari pandemi korona? Kata Cahyo Rahmadi, Kepala Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI): Jangan nanggu satwa liar!“

Selamatkan Hutan Hujan oleh karena itu menuntutnya di berbagai petisi:

https://www.hutanhujan.org/petisi/963/perdagangan-trenggiling-harus-segera-dihentikan

https://www.hutanhujan.org/petisi/1211/pasar-satwa-harus-ditutup

https://www.hutanhujan.org/petisi/1139/selamatkan-orangutan-tapanuli-dan-hutannya

https://www.hutanhujan.org/petisi/1038/hutan-gajah-borneo-di-sabah-terancam

https://www.hutanhujan.org/petisi/1118/membuka-hutan-untuk-energi-kita-tidak-terimakasih

https://www.hutanhujan.org/petisi/1159/selamatkan-hutan-kinipan

https://www.hutanhujan.org/petisi/1040/lindungi-kawasan-ekosistim-leuser