Indonesia: perusahaan pelaku pembakaran harus ditutup selamanya!

Feri diwawancarai di lahan gambut yang hangus „1000 Hektar hutan gambut terbakar“, ujar aktivis lingkungan hidup Feri Irawan kepada wartawan TV. „Tapi sebagian hutan gambut masih bisa diselamatkan.“

„Sejak berminggu-minggu hutan terbakar, anak2 kami meninggal. Penduduk dan hewan mengunggsi dari asap. Burung2 jatuh dari langit.“ Kebanyakan pelaku pembakaran adalah perusahaan minyak sawit dan kertas“, ujar Nordin dari NGO Save Our Borneo. „Pemerintah harus segera menutup perusahaan tersebut“. Tolong tanda tangani tuntutan beliau.

Berita & update seruan

Kepada: Bapak Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo dan Ibu Mentri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar

Tarik konsensi perusahaan terdangkut, berhentilah bencana nasional

Membaca surat

Asap tebal membuat sangat sulit bernafas. Pihak berwenang di Kalimantan dan Sumatra menyatakan situasinya sangat genting. „Seorang anak yang berumur 9 tahun, Intan, pingsan diperjalanan menuju sekolahnya dan meninggal saat dilarikan ke rumah sakit“, demikian Nordin di Kalimantan Tengah. „Ia tercekik oleh partikel asap yang berasal dari api tersebut yang sejak berminggu-minggu menghanguskan tanah kami.“ Intan bukanlah satu-satunya korban meninggal oleh kegiatan ilegal perusahaan yang membakar hutan – termasuk hutan di taman nasional dan hutan rawa gambut yang dilindungi. Pembakaran hutan di Indonesia dilarang keras. 

„Ini semua akibat kerakusan akan minyak sawit,“ ujar Nordin. „Selalu lebih banyak minyak sawit untuk biofuel, perkebunan dan kebakaran.“ Aktivis lingkungan ini mengingatkan akan bencana nasional yang mengancam manusia, hewan dan hutan hujan serta iklim dunia.

Sejak berminggu-minggu berlangsung kebakaran di Jambi. Mitra kerja Selamatkan Hutan Hujan Feri Irawan dan Nordin dengan berani turun ke lokasi kebakaran untuk menemukan pelakunya dan membawanya ke pengadilan.

Sekurang-kurangnya polisi sedang mengusut 24 perusahaan. Beberapa manajer tinggi telah ditangkap, termasuk direktur perusahaan minyak sawit RKK. Perusahaan ini telah membakar 1000 hektar hutan gambut di Sumatra. RKK adalah anak perusahaan Gudang Garam.

„Kami menuntut tidak hanya produsen yang harus bertanggung jawab atas kejahatan disepanjang rantai penyuplaiannya, tapi juga semua perusahaan yang mengolah minyak sawit dari Indonesia menjadi barang konsumsi dan biofuel“, demikian Feri Irawan. „Mereka turut andil dalam kasus kebakaran ini.“ Diantaranya Unilever, Nestlé, Henkel dan perusahaan negara Finlandia Neste Oil yang memasok biodiesel ke pasar Eropa.

Tolong tanda tangani petisi kami kepada pemerintah Indonesia.

Latar belakang

Mereka membakar masa depan anak-anak kami!“ Kebakaran hutan di Indonesia mengancam manusia, hewan dan hutan hujan

Tahun bencana asap 2015

Sejak 30 tahun disetiap bulan Mei sampai November terjadi kebakaran hutan di Indonesia. Tahun 2015 adalah tahun api yang dashyat, mungkin lebih parah dari kebakaran hutan di tahun 1997. Kebakaran ini semakin parah oleh adanya fenomena cuaca berkala seperti El Nino yang menyebabkan musim kemarau di Asia Tenggara menjadi sangat kering sehingga tanaman dan tanah gambut menjadi mudah terbakar.

Kebakaran hutan dan lahan gambut adalah bencana nasional dan global. Dari data satelit wilayah yang paling sering bermasalah adalah Sumatra dan Kalimantan. Namun kebakaran hutan terjadi juga di Papua, seperti di kabupaten Merauke. Disana dalam empat tahun ini telah ditebang lebih dari satu juta hektar hutan untuk dijadikan perkebunan.

Evaluasi data satelit NOAA dan Terra dari 02.01 hingga 14.09.2015 menunjukkan hampir 14.000 kasus – 69% lebih banyak dari tahun sebelumnya. Puncaknya di bulan Juli, Agustus dan September

http://www.mongabay.co.id/2015/09/15/menkopolhukam-jangan-ragu-tindak-perusahaan-pembakar-lahan/

Menurut keterangan globalforestwatch pada awal September 2015 situasi di Jambi adalah yang terparah. Di wilayah inilah kebakaran paling sering terjadi, setengahnya di areal lahan gambut atau hutan gambut.

http://blog.globalforestwatch.org/2015/09/angka-kebakaran-meningkat-sejalan-dengan-perkembangan-el-nino-meningkatnya-kekhawatiran-atas-kesehatan-dengan-memburuknya-kabut-asap/

Penyebab, pembakar dan penjahat: Minyak sawit dan Kertas

Menurut evaluasi dari berbagai data satelit dan NGO lokal, penyebab utamanya adalah pembukaan hutan dengan cara membakar guna pembangunan perkebunan. Yang bertanggung jawab, tergantung dari tempat dan sumber, adalah minyak sawit dan kertas (60-80% kasus kebakaran).

Politik dan industri sering menuduh petani kecil dan penduduk hutanlah yang bertanggung jawab, karena mereka dengan metode slash and burn ingin membuat ladang kecil. Pendapat ini ditentang, sebab hutan primer yang tidak pernah mengalami bencana kebakaran. Bukti kuat bahwa perusahaan industrilah yang bertanggung jawab bisa dilihat dari data satelit. Di sana terlihat jelas konsentrasi hotspots di dalam dan di sekitar kebun sawit dan akasia.

Data satelit NASA dari Jambi ditambah dengan daerah-daerah konsensi kebun sawit dan pulp menunjukkan jelas lokasi kebakaran

http://www.eyesontheforest.or.id/?page=news&action=view&id=823

http://appwatch.blogspot.de/

Pada tanggal 18.09.2015 pemerintah memberikan data lengkap kebakaran dan bencana asap. Setelah itu hingga tangal 09.09.2015 di Kalimantan dan Sumatra hampir 200.000 hektar hutan terbakar. Lokalisasi yang jelas: hampir seluruh kebakaran terjadi di wilayah konsensi perusahaan minyak sawit dan kertas. Data-data ini menyebutkan nama inisial dari lebih 100 perusahaan, nama lengkap tidak disebutkan. Mentri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ibu Siti Nurbaya Bakar, berjanji akan menempuh jalan hukum untuk menangkap perusahaan ini.

http://www.beritalingkungan.com/2015/09/ini-perusahaan-terindikasi-melakukan.html

Daftar ratusan perusahaan dengan lahan terbakar

http://www.mongabay.co.id/2015/09/18/inilah-ratusan-perusahaan-dengan-lahan-terbakar-yang-bakal-kena-sanksi/

Dari nama inisial dan data lainnya dapat disimpulkan bahwa perusahaan yang paling sering melakukan pembakaran adalah Sinar Mas. Anak perusahaannya termasuk Asia Pulp&Paper (APP), Golden Agri Resources (GAR) dan SMART.

Pemerintah melakukan apa?

Pemerintah telah melakukan kesalahan besar. Meskipun bertahun-tahun berjanji mengusut kasus bencana kebakaran, namun tidak ditepati. Seperti biasa: Business as usual. Hutan hanya dianggap sebagai tempat produksi, sehingga semakin banyak konsensi yang diberikan bagi industri minyak sawit dan pulp.

Bertahun-tahun Indonesia tidak menandatangani Haze Agreement dengan negara-negara tetangga. Pemadaman kebakaran tetap tidak tertanggulangi. Perkebunan sendiri tidak ditopang oleh sarana yang memadai.

Presiden Jokowi, para Mentri dan pegawai tinggi berkali-kali memastikan akan menuntut perusahaan perkebunan. Sulit memastikan siapa yang bertanggung jawab, karena pemerintah hingga kini hanya menyebutkan inisialnya saja.

Di bulan September 2015 Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memantau 39 kebakaran besar, 24 diantaranya terjadi di konsensi perkebunan. Menurut keterangan Ibu Siti Nurbaya Bakar akan dilakukan 22 operasi pemadaman dengan mengerahkan 17 helikopter dengan bom airnya, dan empat pesawat yang menyuntik awan agar terjadi hujan. Di lokasi kebakaran bekerja para relawan, polisi dan tentara.

Sebenarnya pemadaman kebakaran tidak akan menyelesaikan masalah. Sebab musnahnya hutan hujan karena meluasnya industri minyak sawit dan kertas serta praktek pembakaran hutan. Itulah letak permasalahan sesungguhnya. Oleh sebab itu NGO menuntut pencabutan segera dan untuk selamanya konsensi perusahaan penyebab kebakaran.

Yang lebih penting adalah melestarikan hutan dan tidak mengijinkan lagi ekspansi.

Akibat dari kebakaran hutan

Tingginya emisi gas rumah kaca

Emisi gas rumah kaca dan pengaruhnya atas perubahan iklim sangat berperan besar. Andil kebakaran hutan, terutama kebakaran lahan gambut, dan deforestasi di tahun-tahun „normal“ sebesar 15% dari emisi global. Di tahun 1997 menjadi 30%.

Pembukaan hutan primer, hutan rawa gambut dan lahan gambut menjadi perkebunan menurut hukum sebenarnya dilarang.

Sebuah moratorium bagi hutan primer dan gambut yang telah didefinisikan yang berlaku sejak tiga tahun, sangat berlawanan dengan aksi menentang perusahaan kayu dan agroindustri. Seperti telah disihir beberapa hutan yang telah didefinisikan istilahnya itu hilang dari perencanaan.

Lebih dari setengah juta hektar kebun sawit di Kalimantan Tengah adalah ilegal, demikian Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Akibat global dari kebakaran lahan gambut

Indonesia (telah) memiliki hutan rawa gambut yang luas. Lahan gambut di Sumatra dan Kalimantan dalamnya bermeter-meter. Tanah yang dari alamnya merupakan tanah basah ini menyimpan sejumlah besar zat karbon. Tanah ini tidak akan terbakar dengan sendirinya. Baru bila hutan gambut ditebang dan dikeringkan dengan tehnik dreinase, maka akan mudah terbakar. Kebakaran hutan gambut sangat banyak menghasilkan karbondioksida, sejumlah besar partikel dan debu yang berbahaya bagi kesehatan. Emisi terbesar Indonesia berasal dari kebakaran lahan gambut.

Informasi berikutnya tentang gambut: http://www.wetlands.org/Home/tabid/37/Default.aspx

Pelanggaran HAM dan kejahatan atas pembakaran hutan dan asap

Komnas HAM menyebut pembakaran hutan dan asap sebagai „pelanggaran HAM“. Pemerintah sama sekali tidak bertindak untuk mengatasi kebakaran. Hak-hak atas kehidupan sehat dilanggar:

http://m.thejakartapost.com/news/2015/09/19/haze-disaster-human-rights-abuse-says-rights-commission.html

WALHI mengecam kebakaran hutan sebagai „kejahatan berat yang luar biasa“ yang bisa disejajarkan dengan korupsi, kejahatan perbankan, terorisme, pelanggaran HAM dan perdagangan manusia. Wawancara dengan ketua WALHI Abetnego Tarigan:

http://nasional.kompas.com/read/2015/09/18/17081601/Walhi.Nilai.Kebakaran.Hutan.Bentuk.Kejahatan.Luar.Biasa

Hilangnya hutan

Berapa luas hutan yang terbakar, belum bisa dipastikan. Di Jambi dari Mei hingga September 2015 telah terbakar lebih dari 33.000 hektar hutan, sebagian besar hutan gambut. Keterangan dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyebutkan hingga awal September di Indonesia terdapat hampir 200.000 hektar hutan, lahan gambut dan permukaan lainnya yang terbakar.

Transboundary Haze

Sejak terjadinya bencana kebakaran hutan di tahun 1997 negara-negara ASEAN berdiskusi tentang asap yang melintasi batas, asap tebal dari kebakaran hutan dan hutan gambut. Terutama Singapura dan Malaysia juga sangat terganggu karena bencana ini.

Tahun 2003 Indonesia telah menandatangani Asean Agreement on Transboundary Pollution. Selanjutnya akan dibuat peta yang menunjukkan dimana letak hotspots itu dan siapa yang memiliki areal tersebut. Namun hingga kini pemerintah Indonesia tetap tidak menyebutkan nama pemiliknya – yang biasanya adalah perusahaan perkebunan. Oleh karena itu Asean Haze Monitoring System ini dianggap sebagai singa yang tak bertaring.

Pemerintah Indonesia membalas: Setengah areal perkebunan adalah milik perusahaan dari Malaysia dan Singapura. Mereka seharusnya menghentikan praktek pembakaran. Wakil Presiden Jusuf Kalla bahkan bercemooh, bahwa Singapura seharusnya berterima kasih kepada Indonesia atas 11 bulan udara bersihnya.

Air4ASEAN adalah sebuah APP untuk Smartphone yang diproduksi pemerintah Thailand. APP ini menunjukkan data, peta asap, tingkat polusi dan konsentrasi partikel yang relevan. Sayangnya pemerintah Indonesia masih belum mengirimkan data.

Download Android:

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.twofellows.pcdtwofellows

Kematian dan penyakit

Pandangan hanya 10 meter, asapnya kuning, penuh partikel hitam yang mendesak masuk ke paru-paru. Anak kecil atau orang yang sakit pernafasan akan sangat menderita oleh bahaya bencana partikel yang berkepanjangan ini; beberapa anak telah meninggal karena bahaya asap ini.

Lihatlah surat video dari mitra kami Save Our Borneo dan silahkan tanggapi:

https://www.youtube.com/watch?v=ASjHOoux_do

Polusi udara

Indeks standar polusi yang menetapkan konsentrasi partikel per meter kubik, menyatakan bahwa pada awal September di Kalimantan Tengah tingkatnya telah mencapai lebih dari 1000 mikrogram.

Konsentrasi partikel di udara di kota lainnya pada tanggal 10.09.2015 dalam mikrogram per meter kubik udara:

Palangka Raya (1.531.24)
Palembang (404,21)
Pekanbaru (261,50)
Pontianak (253,23)
Jambi (170,85)
(Batas debu halus di Jerman 40 mikrogram, anjuran WHO < 100 mikrogram)

Tanggal 19.09.2015 Air Quality Index di Palangkaraya telah melewati indeks dari seluruh negara terkaya di dunia. Di kota yang tenang ini polusi udaranya adalah yang terburuk di dunia.

http://mediaindonesia.com/misore/read/3475/Hotspot-Meningkat-Asap-Makin-Pekat/2015/09/11

Jumlah penderita pernafasan yang terinfeksi di Riau meningkat dua kai lipat dari tahun sebelumnya.

Informasi dan LINK

Pers Jerman hingga kini tidak atau hanya sedikit bahkan hanya dangkal memberitakan bencana kebakaran ini. Pemerintah Jerman mengingatkan bahaya perjalanan ke Sumatra.

Keterangan pers Selamatkan Hutan Hujan 

Mereka membakar masa depan anak-anak kami!“ Kebakaran hutan di Indonesia mengancam manusia, hewan dan hutan hujan

Prediksi ilmiah untuk tahun 2015

http://pubs.giss.nasa.gov/docs/2015/2015_Spessa_sp01100l.pdf

http://www.nat-hazards-earth-syst-sci.net/15/429/2015/nhess-15-429-2015.pdf

Rekaman satelit

https://www.facebook.com/CRISP.NUS?fref=photo

Analisa dari data satelit: Pemerintah Indonesia

http://geospasial.bnpb.go.id/pantauanbencana/data/datakbhutanall.php

Analisa dari data satelit: NGO

http://blog.globalforestwatch.org/2015/09/fires-heat-up-as-el-nino-develops-growing-health-concerns-as-haze-worsens/

http://www.mongabay.co.id/2015/09/15/menkopolhukam-jangan-ragu-tindak-perusahaan-pembakar-lahan/

Data satelit dari Jambi

http://www.eyesontheforest.or.id/?page=news&action=view&id=823 dan http://appwatch.blogspot.de/

Analisa Hotspots dari Riau

http://de.slideshare.net/hutanriau/analisis-titik-api-di-propinsi-riau-2015

Kebakaran di Riau

http://www.wri.org/blog/2015/07/indonesia%E2%80%99s-forest-fires-reignite-threatening-protected-areas-and-peatlands (Inggris)

Video dari Riau

https://youtu.be/2xeEvZOYNq8

Galeri foto Deutsche Welle

http://www.dw.com/id/hutan-sumatera-dan-kalimantan-membara/g-18712886

Fakta singkat tentang kebakaran hutan

http://solidaritas.net/2015/09/ditemukan-fakta-mencengangkan-dibalik-kebakaran-hutan-apakah.html

Interview dengan Zenzi Suhadi, juru kampanye hutan dari WALHI

http://sains.kompas.com/read/2013/06/21/1518308/Kabut.Asap.Ironi.Kejayaan.Sawit.Indonesia?utm_source=news&utm_medium=bp-kompas&utm_campaign=related

Bencana asap dan kejahatan industri, artikel dari Abetnego Tarigan, ketua WALHI

http://geotimes.co.id/bencana-asap-dan-kejahatan-korporasi/

Kebakaran hutan di tahun 1997 yang hingga kini tetap sebagai yang terparah

http://www.cifor.org/publications/pdf_files/OccPapers/OP-038i.pdf (Indonesia)

http://rainforests.mongabay.com/08indo_fires.htm (Inggris)

http://www.spektrum.de/pdf/sdw-04-02-s024-pdf/835734?file (Jerman)

18.9.2015

Surat Abah Nordin bersama beberapa warga Indonesia kepada Presiden RI

Yth. Presiden RI Joko Widodo

Titik api di sekitar kami bukanlah simbol kemarahan Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa, tapi simbol keserakahan dan bukti ketidakpedulian negara terhadap daerah, bapak mau kesini sekarang ?

Bandara ditutup pak. Lagi pula tak ada anak sekolah yang menyambut bapak. Sekolah diliburkan - mau menempuh jalan darat ? Bahaya pak. Asap tebal tidak bagus untuk kesehatan bapak dan Ibu Iriana.

Biarkan saja seperti ini agar Kalimantan menjadi lahan tambang. Lahan sawit. Dan bisa di tanam tanaman industri. Kami ikhlas mati pelan-pelan karena ISPA. Karena ketidakberdayaan kami disini, kami pasrah. Mungkin ini kehendak Allah SWT tuhan YME bagi saudara/i kami di daerah lain, kami sangar berterima kasih atas doa yang selalu kalian panjatkan. Mohon maaf karena kiriman asap dari Kalimantan. Kalian jadi terganggu.

UDARA DI KALIMANTAN BERSETATUS BERBAHAYA

Berita dari berbagai media katanya Kalimantan sudah tidak layak huni lagi karena 5 % udara yang bersih yang bisa di hirup. Pemerintah pusat sudah tidak peduli pada kami. Hari ini puncaknya - 9 juta rakyat Kalimantan akan terkena kanker paru-paru. Terutama anak anak. Seperti lebih peduli pada keseriusan internal di tubuh istana daripada nasib Kalimantan.

Padahal Kalimatan salah satu penyumbang devisa terbesar negara.

Belum lagi usai bencana asap kami sudah di hadapkan lagi pada limbah tambang batu bara yang mencemari aliran sungai di pertanian maupun di perternakan. Serta turunnya harga sawit dan getah sangat parah.

Semoga pemerintah pusat dan daerah bisa melihat sedikit bencana yang kami hadapi dan memberikan solusi jalan keluarnya atau serahkan saja Kalimantan sepenuhnya kepada Malaysia dan Brunei.

Tolong sebarkan karena media tv dan koran tidak banyak memberitakan tentang hal ini. Terlalu sibuk dengan pemberitaan kepentingan pribadi dan kelompok semata di dalam istana kami hanya bisa berharap pada doa

sebelum rakyat kalimantan mati pelahan di sini.

Terima kasih.

Surat

Kepada: Bapak Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo dan Ibu Mentri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar

Yang terhormat Bapak Presiden dan Ibu Mentri,

kembali seorang anak gadis di Sampit (Kalimantan Tengah) meninggal akibat asap dari kebakaran hutan. Dalam perjalanan ke sekolah Intan (9 tahun) tercekik oleh partikel asap yang ada di paru-parunya.

Bocah ini bukanlah satu-satunya korban atas bencana nasional ini. Sudah banyak korban jiwa sebelumnya dan banyak penduduk lainnya yang jatuh sakit. Indeks standar polusi di Kalimantan dan Sumatra telah melebihi batas yang ditentukan. Contohnya polusi di Palangkaraya telah mencapai hingga sampai 2000 mikrogram per meter kubik pada tanggal 23 September. Jumlah ini 20 kali lebih banyak dari batas jumlah yang ditentukan WHO.

Tiap tahun hutan gambut dan hutan di negara Anda terbakar. Pelakunya adalah perusahaan kayu dan minyak sawit yang mempersiapkan dan memperluas perkebunannya, meskipun pembakaran hutan di Indonesia dilarang keras. Masalah ini bahkan terjadi pula di taman nasional Berbak di Jambi. Disana PT. Pesona Belantara Persada menyuruh oknum untuk membakar hutan gambut yang tersisa di Sumatra. Juga di taman nasional Tanjung Puting di barat daya Kalimantan. BGA Group telah menebang dan membakar hutan disana yang sebenarnya dilindungi. Taman nasional ini juga merupakan habitat orang utan dan bekantan.

Anda telah berkali-kali menjanjikan bahwa tidak akan ada lagi hutan yang dibakar dan bahwa Anda bertekat mencegah kebakaran dan menuntut tanggung jawab pelaku. Namun tahun ini hutan-hutan di Sumatra dan Kalimantan lebih banyak yang dibakar dibanding masa sebelumnya. Lebih dari lusinan perusahaan yang diduga sebagai pelaku pembakaran ribuan hektar hutan hujan. Pada tanggal 23 September telah ditangkap direktur minyak sawit RKK. Perusahaan ini telah menyebabkan terbakarnya 1000 hektar hutan gambut di Sumatra. Tepatilah janji Anda: tuntut tanggung jawab semua para pelaku. Tarik konsensi perusahaan yang tersangkut dan jangan berikan lagi konsensi baru untuk perusahaan tersebut dan perusahaan lainnya. Tetapkan kewajiban pelaku mereboisasi hutan. Pertimbangkanlah politik ekonomi Anda terutama bantuan akan biofuel. Sebab biofuel membutuhkan minyak sawit yang berakibat pada penebangan hutan hujan dan pencemaran iklim.

Bentuklah Undang-Undang Transparensi agar tidak hanya produsen minyak sawit dan kertas yang bertanggung jawab atas kejahatannya disepanjang rantai penyuplaiannya, tapi juga semua perusahaan yang mengolah minyak sawit dan kertas dari Indonesia menjadi barang konsumsi dan biofuel. Bapak Presiden dan Ibu Mentri: Berhentilah dengan janji kosong! Lestarikanlah hutan hujan bagi manusia, hewan dan tumbuhan.

Berita & update

berita | 15 Jun 2016

Blocking kanal Solusi Cegah Kebakaran

Kepala Badan Restorasi Gambut, Wagub dan Bupati menhargai usaha SOB

Tragedi tahunan bencana kebakaran gambut 2015 di Indonesia adalah yang terburuk yang sudah dialami mitra kami Save Our Borneo. Terutama asap beracun akibat hancurnya ekologi gambut telah membuat penduduk sakit parah. Sejak berbulan-bulan para warga terus membasahi gambut. Hingga akhirnya pemerintah turut juga ambil tangan.

selanjutnya

berita | 15 Des 2015

Indonesia: Apa yang terjadi setelah kebakaran?

Indonesia dalam beberapa bulan terakhir ini telah kehilangan 27.000 kuadrat kilometer wilayah alam dan hutan hujan akibat bencana kebakaran; api dan asap menyebabkan jatuh korban jiwa dan hewan. Cukupkah tindakan pemerintah mengusut pelaku pembakaran agar hal ini tidak terjadi lagi di masa depan? Apa kata aktivis alam? Neraca pertama.

selanjutnya

berita | 19 Okt 2015

Stop Manipulasi Data! Kabarkan Angka ISPU Secara Jujur dan Berkala

Jutaan masyarakat yang terpapar asap di Jambi harusnya mendapat layanan kesehatan dan informasi yang cukup mengenai keadaan udara sekitarnya. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Pihak Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) secara terang-terangan memanipulasi angka Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU).

selanjutnya

Petisi ini tersedia dalam bahasa-bahasa berikut:

Tolong tandatangani

Bantulah kami mencapai 150.000:

138.399
aktivitas sebelumnya