Hentikan kerusakan ekosistem Leuser hari ini!

Anak gajah Sumatera di kawasan ekosistem Leuser Selamatkan gajah Sumatera! (© Paul Hilton)

Bulan ini (29/11/2016) Pengadilan memberi putusan atas masa depan sebuah paradis – Kawasan Ekosistem Leuser, dimana orang utan, harimau, gajah dan badak hidup dalam satu habitat. Namun Qanun 19 ttg RTRW sangat mengancamnya. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memberi putusan atas gugatan Warga Aceh. Tandatangani segera!

seruan

Kepada: Bapak Gubernur Aceh Zaini Abdullah, Bapak Mentri Tjahjo Kumolo, DPRA

Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Aceh mengancam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). RTRW ini harus direvisi demi perlindungan KEL.

Membaca surat

Di hutan rawa di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) hidup sebagian besar dari orang utan di Sumatra. Di hutan hujan di KEL tumbuh kembang terbesar di dunia yang bernama Rafflesia.

Keaneka-ragaman hayati kawasan yang dinobatkan UNESCO sebagai warisan budaya dunia sangat menakjubkan. Aktivis lingkungan bahkan memperkirakannya sebagai salah satu wilayah suaka yang terpenting di dunia. KEL memiliki makna global sebagai penyimpan karbon dan pengatur iklim. Untuk mendapatkan air dan nafkah, empat juta penduduk sangat tergantung dari kelestarian hutannya.

Namun pemerintah provinsi Aceh, dimana sebagian besar dari kawasan itu terletak di provinsi ini, telah membuat Qanun No. 19 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh yang mengabaikan KEL yang luasnya 26.000 kilmeter persegi sebagai kawasan strategi. Dengan demikian wilayah suaka itu akan dibuka untuk pertambangan, jalanan, perkebunan sawit dan kayu. Segala upaya untuk melindungi KEL bagi hewan yang terancam punah dan manusia menjadi sia-sia.

Penduduk Aceh membela diri. Mereka telah menarik Mentri Dalam Negri, gubernur Aceh dan DPRA ke pengadilan dan ingin adanya jaminan perlindungan KEL. Bantulah penduduk Aceh menentang RTRW yang menghancurkan alam Aceh.

Latar belakang

Kawasan Ekosistem Leuser

Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) di Sumatra merupakan salah satu kawasan lindung terbesar dan terpenting di Indonesia. Sebagian besar wilayahnya terletak di provinsi Aceh dan namanya berasal dari gunung tertinggi yaitu gunung Leuser (3404 meter).

Landskap (alam) KEL terdiri dari ekosistem pesisir di samudra India, hutan hujan, hutan pegunungan, lahan gambut dan rawa-rawa menyimpan berbagai jenis hutan tropis. Hutan hujan di taman ini dulunya termasuk dalam sisa-sisa asal muasal Indonesia. 8500 varietas tanaman terdokumentasi, diantaranya pohon tropis seperti meranti (Shorea sp.), damar (Hopea spp.), keruing (Dipterocarpus spp.). Bunga terbesar di dunia, raflesia, juga tumbuh disini.

KEL terkenal dengan faunanya dan dinobatkan sebagai satu-satunya tempat di dunia dimana empat mamalia besar hidup bersama dalam satu habitat, yaitu orang utan (Pongo pygmeus), harimau sumatera yang sangat langka (Panthera tigris sumatera), badak sumatra dan gajah sumatra. Sedikitnya terdapat tujuh jenis kucing besar di KEL, disamping harimau sumatra juga leopard tutul (Neofelis nebulosa), kucing emas (Felis temmincki) dan kucing batu (Felis marmorata). Ada juga ajax atau anjing hutan (Cuon alpinus), beruang madu (Helarctos malayanus) dan kambing hutan sumatra (Capricornis sumatrensis).

Mongabay: kenakearagam hayati

Kehati: Leuser - Flora dan Fauna

Rainforest Action Network: The Last Place on Earth

Dari yang awalnya sebagai cagar satwa lokal terbentuklah tahun 1995 Taman Nasional Gunung Leuser dengan luas 10.000 km²dan merupakan inti dari KEL yang luasnya 26.000 km². Di zona penyangga, pertanian dan desa-desa boleh berdiri, namun industri yang destruktif dilarang.

Yang bertanggung jawab atas perlindungan KEL adalah Leuser Foundation. Program pelindungan KEL telah dibiayai juga oleh Uni Eropa sebanyak 50,5 juta Euro. 

Leuser Foundation

Ancaman Kawasan Ekosistem Leuser: kayu, sawit, pertambangan, jalan

„Gila“ sebut Perdana Mentri Lingkungan Hidup Indonesia, Siti Nurbaya, atas penebangan ilegal, dan „sangat mengkhawatirkan“. „Menakutkan“ ujar Rudi Putra dari Forum Konservasi Leuser atas keadaan Kawasan Ekosistim Leuser (KEL). Sebab program perlindungan tidak dapat menghindari perusakan alam.

Penebangan ilegal telah membiayai ke dua partai yang terlibat dalam konflik di Aceh (1976-2005), baik kelompok GAM maupun TNI. Pada akhir masa rezim Suharto tahun 1998 ¼ wilayah KEL telah rusak. Setelah bencana Tsunami tanggal 26.12.2004 memang perundingan damai secara politik berlangsung sukses, namun secara ekologis tidak demikian. Penebangan semakin marak.

Perkebunan sawit sejak belakangan ini tumbuh di banyak tempat di KEL. Tidak sedikit bisnis ini dimiliki oleh mantan pejuang GAM dan politisi lokal.

Evaluasi data satelit NASA terbaru dari University of Maryland menyatakan bahwa dari tahun 2002 hingga 2008 lebih dari 30.000 hektar hutan hujan telah dirusak. Antara 2008 dan 2013 tingkat pengrusakan menunjukkan lebih dari dua kali lipatnya yaitu 80.316 hektar (data dari Website Global Forest Watch).

Pembangunan jalanan (Ladia Galaska, sebuah sistim lalu lintas di sepanjang taman nasional dan sebagian masih dibangun) sangat mengancam eksistensi KEL.

Dampak langsung dari penebangan, selain musnahnya hutan hujan, biodiversitas dan perlindungan iklim dan air, adalah bencana banjir besar yang sering melanda Aceh.

Penebangan semakin liar. Menurut perhitungan NGO lingkungan hidup lokal hanya separuh wilayah KEL yang masih hijau, 5% diantaranya hutan primer.

Tanggung jawab internasional: Minyak sawit

Minyak sawit dari Aceh berhasil menembus pasar dunia. Selamatkan Hutan Hujan berupaya menuntut tanggung jawab sebuah perusahaan yang merusak sebagian rawa Tripa dan membakarnya untuk dijadikan perkebunan sawit.

Banding ditolak pengadilan tinggi banda aceh saatnya pt kallista bayar rp366 miliar ke negara/

Sebuah studi dari NGO Indonesia Greenomics pada tanggal 6 Mei 2015 menunjukkan bagaimana perusahaan Aloer Timur, pemasok perusahaan minyak sawit besar Musim Mas dan Wilmar International, menebang luas wilayah di Ekosistem Leuser. Pembukaan hutan di KEL melanggar Indonesian Palm Oil Pledge (IPOP) = Kesepakatan Minyak Sawit Indonesia. Kedua perusahaan besar itu telah menandatangani kesepakatan tersebut. Sejak publikasi studi ini Musim Mas dan Wilmar tetap tidak menghentikan bisnisnya dengan Aloer Timur.

Greenomics: IPOP Implementation Report (pdf)

Musim Mas und Wilmar International verantwortlich für anhaltende Abholzung im Leuser

Rencana Tata Ruang Wilayah

Pada tahun 2013 pemerintah Aceh telah menetapkan qanun tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh (Qanun RTRW 19, 2013) yang mengatur penggunaan lahan. Yang anehnya adalah masalah KEL tidak disinggung di dalamnya sebagai kawasan strategis nasional. Ini berarti: perkebunan baru, pembangunan jalanan dan aktivitas lainnya yang merusak akan mudah diijinkan. Aktivis lingkungan dan penduduk Aceh telah berprotes dan mengajukan keberatan. Kementrian di Jakarta telah meminta Gubernur Aceh untuk menarik perencanaan tersebut. Namun tidak berhasil.

Perlawanan dan penggugatan

Perlawanan menentang pengrusakan hutan sudah dimulai sejak bertahun-tahun oleh perkumpulan masyarakat adat JKMA, beberapa NGO dan partisipasi penduduk setempat serta berbagai kelompok internasional. Namun provinsi Aceh tidak mengacuhkan.

Gerakan Rakyat Aceh Menggugat (GerAM) menyerahkan gugatan ke Pengadilan Tinggi di Jakarta Pusat antara lain untuk memeriksa Mentri Dalam Negeri, Gubernur dan Parlemen Aceh. Tujuannya adalah menyempurnakan atau mencabut qanun tersebut.

9 orang akan mewakili GerAM. Mereka mendasari gugatannya karena beberapa wilayah di KEL dalam perencanaan tata daerah tidak disebutkan sebagai wilayah suaka, termasuk rawa Tripa dimana hidup satu jenis khusus orang utan.

Keluhan sebelumnya dan kecemasan penduduk tidak digubris serta Undang-Undang diabaikan, demikian pernyataan penggugat dari GeraM. „Dibalik ini semua bersembunyi kepentingan bisnis“, ujar mereka.

Jaringan WALHI (Friends of the Earth Indonesia) tahun 2014 telah mengajukan gugatan di Mahkamah Agung. Namun ditolak.

RTRW Aceh Digugat ke PN Jakarta, Ini Alasannya

Aceh citizens sue government to save leuser ecosystem

manusia dan alam terancam warga gugat rtrw aceh ke pn jakpus

Video Gerakan Aceh Menggugat

Surat

Kepada: Bapak Gubernur Aceh Zaini Abdullah, Bapak Mentri Tjahjo Kumolo, DPRA

Yang terhormat Bapak Presiden, yang terhormat Bapak Gubernur,

Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) bagaikan batu permata yang sangat indah. Hanya disanalah hidup 4 mamalia besar yang langka: Harimau, badak, gajah dan orang utan yang hidup di habitat yang sama. Berkat fungsi dari KEL maka jutaan manusia bisa hidup karena mendapatkan air, ikan dan produksi hutan lainnya.

Namun Kawasan Ekonomi Leuser rusak berat karena penebangan dan perkebunan. Jalanan dibangun melintasi wilayah suaka dan pertambangan dibangun di banyak tempat. Pengrusakan ini mengakibatkan banjir besar dan tanah longsor yang sangat menderitakan seluruh penduduk Aceh.

Masa kini KEL berada dalam bahaya. Pemerintah Aceh dalam Qanun 19 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh hingga tahun 2033 tidak memasukkan banyak wilayah sebagai kawasan strategis nasional dan wilayah suaka.

Hal ini bertentangan dengan perundang-undangan Indonesia (U.U. no. 26/2007 tentang tata ruang dan U.U. no. 11/2006 tentang pemerintahan Aceh). Meskipun Bapak Mentri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo di tahun 2014 telah menuntut Aceh untuk merubah rencana tata ruang wilayah, namun hal ini hingga kini belum terlaksana.

Cemas akan tanah airnya, warga Aceh telah menggugat gubernur, mentri dalam negri dan DPRA ke pengadilan. Mereka ingin adanya jaminan perlindungan KEL.

Bertindaklah dengan segala upaya mencabut Qanun 19 RTRW Aceh dan bentuklah perlindungan efektif Kawasan Ekosistim Leuser. Lindungilah manusia, flora, fauna, hutan dan alam di Leuser!

Dengan hormat

Petisi ini tersedia dalam bahasa-bahasa berikut:

Tolong tandatangani

Bantulah kami mencapai 250.000:

247.114
aktivitas sebelumnya