Skip to main content
Cari
tiga laki-laki di tenda
Bantuan dari rakyat ke rakyat sudah tiba di Beutong (© APEL Green Aceh)
rumah kecil
Rumah baru dengan bantuan pemerintah (© APEL Green Aceh)
Laki diatas batu di sungai
sendirian di sungai Meureubo (© APEL Green Aceh)

Solidaritas yang Menjaga Beutong Tetap Bertahan

2 Apr 2026Indonesia: Empat bulan setelah badai siklon melanda Sumatra, kami menerima surat dari Beutong di Ekosistem Leuser. Masyarakat yang selama bertahun-tahun berjuang melawan pertambangan dan penebangan hutan telah kehilangan segalanya dan masih tinggal di tenda-tenda. Solidaritas dari Selamatkan Hutan Hujan telah memberi mereka kekuatan dan harapan. “Kami tetap bertahan hidup!”


Beutong Ateuh Banggalang merupakan salah satu wilayah di Aceh yang tidak hanya kaya akan sumber daya alam, tetapi juga memiliki kedalaman makna sosial, budaya, dan spiritual. Kawasan ini dikenal sebagai “tanah para aulia”, sebuah ruang hidup di mana nilai-nilai spiritual, hukum adat, dan relasi ekologis menyatu dalam praktik kehidupan sehari-hari. Hutan yang lebat berfungsi sebagai penyangga ekologis, sungai-sungai jernih menjadi sumber kehidupan, dan alam diposisikan sebagai entitas yang dirawat secara kolektif lintas generasi. Dengan demikian, Beutong Ateuh Banggalang dapat dipahami sebagai representasi harmoni antara manusia dan lingkungan yang kian langka di tengah tekanan modernisasi.

Namun, harmoni tersebut mengalami disrupsi signifikan ketika banjir bandang melanda wilayah ini pada 26 November 2025. Bencana tersebut tidak hanya mengakibatkan kerusakan fisik berupa hancurnya permukiman dan lahan produktif, tetapi juga mengguncang struktur sosial dan rasa aman masyarakat. Data lapangan menunjukkan bahwa lebih dari 85 persen rumah dan fasilitas permukiman mengalami kerusakan parah. Bahkan, beberapa desa seperti Babah Suak dan Kuta Tengah Sayang dilaporkan hilang akibat derasnya arus banjir, meninggalkan lanskap kehancuran yang mendalam.

Debu dari lumpur yang mengering masih beterbangan. Di sisi lain, kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, layanan kesehatan, dan penerangan belum sepenuhnya terpenuhi. Pemulihan terasa berjalan lambat, seakan jarak menuju kehidupan normal masih begitu jauh. Namun di tengah kondisi tersebut, solidaritas justru tumbuh. Bantuan hadir bukan dari kekuasaan, melainkan dari kepedulian—dari orang-orang yang mungkin belum pernah melihat Beutong Ateuh secara langsung, tetapi memilih untuk tidak berpaling.

Melalui dukungan dari Selamatkan Hutan Hujan melalui Yayasan APEL Green Aceh, bantuan kemanusiaan terus disalurkan secara bertahap kepada warga terdampak. Bahan pangan, air bersih, obat-obatan, perlengkapan kesehatan, alat memasak, hingga kebutuhan perempuan dan anak-anak didistribusikan ke berbagai titik pengungsian. Tenda-tenda yang berdiri hari ini bukan sekadar tempat berteduh, tetapi menjadi ruang bagi warga untuk tetap bertahan dan melanjutkan hidup.

Di antara berbagai bantuan tersebut, cahaya menjadi salah satu yang paling terasa dampaknya. Lebih dari ratusan lampu tenaga surya kini menerangi tenda-tenda pengungsian. Di tempat tanpa akses listrik, cahaya kecil itu bukan hanya alat penerang, tetapi juga menghadirkan rasa aman—terutama bagi perempuan dan anak-anak—serta membantu warga menjalani aktivitas di malam hari.

Kesaksian warga mencerminkan pentingnya keberlanjutan bantuan tersebut. 

Bantuan ini sangat berarti bagi kami. Dari awal sampai sekarang, kami masih dibantu. Kami merasa tidak sendiri, 

ungkap Mak Wod, yang merepresentasikan pengalaman kolektif masyarakat dalam menghadapi krisis.

Bagi masyarakat Beutong Ateuh, bantuan yang datang bukan sekadar angka dalam laporan. Ia menjadi bukti bahwa di tengah kesulitan, kepedulian masih hidup. Perempuan dan anak-anak menjadi kelompok paling rentan dalam situasi ini—kehilangan ruang aman, keterbatasan akses kesehatan, serta tekanan hidup di pengungsian membuat mereka membutuhkan perhatian yang berkelanjutan.

Di sisi lain, Beutong Ateuh berada di sekitar bentang alam penting, yakni kawasan hutan Ulu Masen dan Leuser. Hutan-hutan ini selama ini berperan menjaga keseimbangan lingkungan, menahan aliran air, serta melindungi kehidupan masyarakat di sekitarnya. Ketika hutan rusak, bencana menjadi semakin dekat dan dampaknya kian besar.

Apa yang terjadi di Beutong Ateuh hari ini menjadi pengingat bahwa menjaga hutan berarti melindungi kehidupan. Rahmad Syukur direktur  Yayasan APEL Green Aceh menyampaikan bahwa dukungan dari  Selamatkan Hutan Hujan telah menjadi penopang penting bagi masyarakat yang terdampak.

“Sejak hari pertama bencana hingga hari ini, kami terus berupaya melakukan yang terbaik untuk masyarakat di Beutong Ateuh. 

Bantuan ini bukan hanya memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga memberi harapan di tengah situasi yang sulit” ujarnya.

Ia juga menyampaikan Terima kasih kepada para donatur.

“Kami ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Selamatkan Hutan Hujan  yang telah mempercayakan donasinya kepada kami. Apa yang telah diberikan bukan sekadar bantuan, tetapi kekuatan bagi mereka untuk terus bertahan.”

Bantuan yang datang mungkin belum mampu menjawab seluruh kebutuhan. Namun bagi warga Beutong Ateuh, dukungan itu adalah harapan yang nyata—sebuah pengingat bahwa mereka tidak menghadapi masa sulit ini sendirian. Bersama Selamatkan Hutan Hujan Yayasan APEL Green Aceh dan para donatur, pendampingan akan terus dilakukan. 

Karena di Beutong Ateuh, solidaritas bukan sekadar kata, melainkan kekuatan yang menjaga mereka tetap bertahan hidup.

Halaman ini tersedia dalam bahasa berikut:

Petisi aktual, latar belakang dan informasi lanjutan

Pesan buletin kami sekarang.

Tetap up-to-date dengan newsletter gratis kami - untuk menyelamatkan hutan hujan!