Ratusan hektar Rawa Tripa terbakar
Indonesia: Musim kemarau dimulai dengan terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Di rawa gambut Tripa, 334 hektar lahan terbakar. Apel Green Aceh mendesak pemerintah untuk mengatasi akar permasalahan dan mencabut izin perusahaan yang bertanggung jawab.
- Skala Kebakaran Hebat: Sedikitnya 334 hektare lahan gambut di kawasan Rawa Tripa, Nagan Raya, telah terbakar dengan deteksi mencapai 332 titik panas (hotspot).
- Kerusakan Ekosistem Vital: Kebakaran tahunan ini mengancam Rawa Tripa yang merupakan kawasan gambut penting di Aceh, yang berfungsi sebagai penyimpan cadangan karbon besar, habitat satwa liar, dan penjaga tata air.
- Faktor Penyebab: Direktur APEL Green Aceh, Rahmat Syukur, menilai kebakaran besar ini bukan bencana alam tapi pembukaan lahan, kelalaian, dan lemahnya pengawasan.
- Tuntutan Tindakan Tegas: APEL Green Aceh mendesak Kapolda Aceh membentuk tim investigasi khusus untuk mengusut pelaku, serta meminta Pemkab Nagan Raya mengevaluasi dan mencabut izin usaha yang terbukti melanggar aturan lingkungan.
Rahmat Syukur mengatakan kebakaran lahan gambut di Nagan Raya menjadi persoalan serius yang terus berulang setiap tahun tanpa penyelesaian yang menyentuh akar masalah.
„Ketika ratusan titik panas muncul dalam satu bulan dan ratusan hektare lahan terbakar, pertanyaannya adalah mengapa kebakaran terus berulang dan siapa yang harus bertanggung jawab,” kata Rahmat Syukur.
Menurutnya, data tersebut menggambarkan kerusakan ekosistem gambut yang memiliki peran penting bagi lingkungan.
Rawa Tripa merupakan salah satu kawasan gambut penting di Aceh yang menyimpan cadangan karbon dalam jumlah besar, menjadi habitat berbagai satwa liar, serta berfungsi menjaga tata air dan mengurangi risiko bencana.
Rahmat Syukur menilai kebakaran gambut dalam skala besar tidak dapat dipandang semata-mata sebagai bencana alam. Menurutnya, berbagai kasus kebakaran lahan umumnya berkaitan dengan aktivitas manusia, baik akibat pembukaan lahan, kelalaian, maupun lemahnya pengawasan terhadap kawasan yang rentan terbakar.
„Kebakaran gambut selalu memiliki dampak yang luas. Selain merusak ekosistem, setiap hektare gambut yang terbakar juga melepaskan emisi karbon dalam jumlah besar ke atmosfer dan memperburuk krisis iklim,” ujarnya.
Ia mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut penyebab kebakaran yang terjadi.
„Harus ditelusuri siapa yang menguasai lahan, siapa yang memperoleh keuntungan, dan siapa yang lalai hingga kebakaran meluas menjadi ratusan hektare,” kata Rahmat.
Selain itu, APEL Green Aceh juga meminta Pemerintah Kabupaten Nagan Raya melakukan evaluasi menyeluruh terhadap izin usaha yang berada di sekitar kawasan terdampak kebakaran.
Menurut Rahmat, apabila ditemukan pelanggaran terhadap kewajiban perlindungan lingkungan, pemerintah harus berani menjatuhkan sanksi hingga pencabutan izin usaha.
„Rawa Tripa terus mengingatkan bahwa gambut yang rusak akan terus terbakar. Jika penyebabnya tidak diungkap dan tidak ada langkah pencegahan yang serius, kebakaran serupa akan terus berulang setiap tahun,” ujarnya.
Pelajari lebih lanjut tentang Rawa Tripa dalam webinar UGM PUBLICNESS FORUM „Menuju Inklusivitas Ruang Hidup: Rawa Tripa dan Sisa Harapan" Rekaman kebakaran yang sedang terjadi mulai menit 0:30 ------ Klik di sini untuk melihat presentasi Direktur APEL Green Aceh Rawa Tripa dan Sisa Harapan
Laporan Pemantauan Rawa Gambut Tripa April 2026 oleh Apel Green Aceh
Halaman ini tersedia dalam bahasa berikut:
Membela hutan hujan dan rawa gambut di Nagan Raya, Ekosistem Leuser
Orangutan, harimau, badak dan gajah di Ekosistem Leuser terancam. APEL Green Aceh mengutamakan sistem perlindungan dari masyarakat adat.
Selamatkan Rawa Tripa, Habitat Terakhir Orangutan!
Lahan di kawasan lindung gambut Tripa di Nagan Raya dibuka lagi - ini hasil investigasi Koalisi Selamatkan Lahan dan Hutan. Kehilangan tutupan hutan mencapai ratusan hektar.
Hutan gambut - dimana air memeluk bumi
Melestarikan hutan rawa gambut adalah langkah penting untuk mengurangi emisi karbondioksida. Namun kawasan ex hutan gambut di Kalimantan dan di Sumatera sering terbakar.