Skip to main content
Cari
Asap dari kebakaran hutan
Kebakaran hutan di Palangkaraya (© YIHUI)
Jalan yang diselimuti asap
Asap beracun akhir oktober di kota Sampit, terletak 230 km dari Palangkaraya (© YIHUI)
34 anak muda berpose dengan menggunakan sebuah poster
Sukarelawan sedang melakukan persiapan kerja di pos pertolongan darurat bantuan dari Selamatkan Hutan Hujan dan Save Our Borneo (© Save Our Borneo)
4 orang sedang duduk dengan memakai masker. Di latar belakang: Poster „Aksi Peduli Korban Karhutla“ dengan logo Selamatkan Hutan Hujan
Selamatkan Hutan Hujan membantu kampanye pertolongan darurat (© Save Our Borneo)
Asap kebakaran naik dari rawa gambut yang ditebang
Setelah hujan, rawa gambut di Katingan (Kalimantan) tetap terbakar (4 november) (© Save Our Borneo)

Kalimantan terbakar

4 Nov 2026Indonesia: Dua juta hektar menjadi tandus akibat kebakaran. Ribuan warga dan hewan meninggal atau mati, ratusan ribu warga sakit parah, tujuan iklim jadi sia-sia. Kebakaran hutan di Indonesia adalah buatan manusia. Kalimantan sangat terdampak. Selamatkan Hutan Hujan berpartisipasi pada aksi pertolongan darurat.


Hingga awal oktober api merusak hampir dua juta hektar hutan dan lahan di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Ini hampir sepuluh kali lebih besar dari tahun sebelumnya. Kebakaran hutan separah ini merupakan yang tertinggi di Indonesia sejak 2019 ketika 2,6 juta hektar terbakar. Musim kebakaran tapi belumlah berakhir.

Bencana di Kalimantan adalah buatan manusia

Peta dari NASA dengan hotspots kebakaran di Kalimantan pada 4.11.2026
Foto satelit menunjukkan hotspots kebakaran di Kalimantan pada 4 November 2026 (© Nasa - FIRMS)

Sejak juli kebakaran besar menyelimuti Kalimantan, terutama di provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Hal ini disebabkan oleh pembakaran membuka lahan untuk pembangunan perkebunan agraria dan musim kering yang disebabkan El-Niño yang sangat kuat dan panjang.

Sangat dramatis adalah situasi di wilayah-wilayah yang dulunya ditebang dan kini menjadi perkebunan sawit dan di lahan gambut. Lebih dari setengah hotspots berada di dalam wilayah konsesi perusahaan agraria.

Ini bukan bencana alam. Kebakaran bisa diperkirakan dan dihindari! Pinarsita, Save Our Borneo.

Yang sangat berbahaya adalah kebakaran di rawa gambut yang telah dikeringkan. Api terus terbakar di bawah lapisan tanah, hampir tidak bisa dipadamkan dan melepaskan ke udara karbon dioksida dalam jumlah yang sangat besar dan asap tebal.

Jalan yang diselimuti asap
Asap beracun akhir oktober di kota Sampit, terletak 230 km dari Palangkaraya (© YIHUI)

Sejarah tak terlupakan ketika 1,3 juta hektar hutan rawa gambut dirusak untuk proyek cetak sawah seluas 1 juta hektar di masa mantan diktator Suharto. 1997, hanya satu tahun setelah pengeringan, kebakaran tanah gambut di sana bertanggung jawab atas seperempat emisi gas rumah kaca dunia. Bencana lingkungan ini dampaknya masih terasa hingga sekarang.

Akibat asap beracun („kabut“), ratusan ribu warga menderita infeksi saluran pernafasan yang parah. Sekolah-sekolah harus ditutup. Asap juga menerpa Malaysia dan Singapura.

Di bulan oktober, situasi di Kalimantan semakin parah. Langit di Palangkaraya menjadi merah menyeramkan. Pencemaran udara mencapai titik tinggi yang sulit dibayangkan. Ratusan ribu penduduk tidak mendapat udara bersih lagi. Partikel debu terutama berasal dari tanah gambut yang luas yang sejak tiga puluh tahun ditebang dan dikeringkan.

Tiga perempat dari seluruh wilayah yang didiami orangutan terbakar atau terancam oleh api yang mendekati kawasan. Para sukarelawan melapor aksi pertolongan yang dramatis.

Ribuan manusia meninggal akibat gagal jantung atau paru-paru. Menurut Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), polusi partikel halus (PM2,5) hanya di bulan september saja diperkirakan menyebabkan 3560 kasus kematian dini di Indonesia, paling banyak ada di Kalimantan. Di bulan agustus terdapat sekitar 1700 kasus kematian.

Solidaritas dengan Kalimantan

34 anak muda berpose dengan menggunakan sebuah poster
Sukarelawan sedang melakukan persiapan kerja di pos pertolongan darurat bantuan dari Selamatkan Hutan Hujan dan Save Our Borneo (© Save Our Borneo)

Dalam situasi darurat baik ekologis dan kesehatan, mitra kami Save Our Borneo dan YIHUI bersama organisasi-organisasi lainnya bergabung memberi bantuan.

Langkah awal adalah memberikan pertolongan darurat. Segera setelah keadaan mengizinkan, lanjut langkah ke dua restorasi alam dan ke tiga pencegahan kebakaran. 

4 orang sedang duduk dengan memakai masker. Di latar belakang: Poster „Aksi Peduli Korban Karhutla“ dengan logo Selamatkan Hutan Hujan
Selamatkan Hutan Hujan membantu kampanye pertolongan darurat (© Save Our Borneo)

 

Spanduk „Gerakan Empati dan Solidaritas Insan Terdampak Karhutla“
„Gerakan Empati dan Solidaritas Insan Terdampak Karhutla“ di kota Sampit, YIHUI dan Selamatkan Hutan Hujan (© YIHUI)

Dengan donasi Selamatkan Hutan Hujan hingga kini membantu aksi pertolongan darurat dari Save Our Borneo dan YIHUI.

Ke dua partner kami untuk aksinya menyewa rumah serta melibatkan dokter dan sukarelawan. Mereka melayani korban dengan tabung oksigen, masker dan obat-obatan serta membangun „ruang aman“ agar warga bisa bernafas dengan udara bersih.

Terus terbakar

Pada akhir oktober turun hujan di Kalimantan walaupun sebentar. Namun awal november kembali terjadi kebakaran besar, contohnya di lahan gambut Katingan. Api mulai mendekati hutan-hutan yang padat di Taman Nasional Sebangau, dimana di sana hidup orangutan, demikian keterangan Habibi, direktur organisasi mitra kami Save Our Borneo. Safrudin Mahendra dari YIHUI melapor kebakaran hebat di kabupaten Seruyan, pusat dari perkebunan sawit kkonglomerat besar seperti Wilmar dan lain-lain.

Asap kebakaran naik dari rawa gambut yang ditebang
Setelah hujan, rawa gambut di Katingan (Kalimantan) tetap terbakar (4 november) (© Save Our Borneo)

Kritik terhadap politik

Ke dua mitra kami itu, juga seperti organisasi rakyat sipil lainnya, menuntut Presiden Prabowo agar menyerukan keadaan darurat. Lebih dari 72.000 tenaga pemadam telah dikerahkan, demikian jawaban pemerintah atas tuntutan tersebut. Akhir oktober dilakukan penyuntikan awan agar tercipta hujan.

Di seluruh Indonesia muncul keresahan akibat kurangnya pencegahan kebakaran dan kelirunya politik ekonomi. Langkah prioritas salah diterapkan: Uang dikeluarkan untuk proyek-proyek yang merusak alam atau yang tidak berguna, hutan ditebang untuk minyak sawit, bahan mentah lainnya atau kertas. Emisi yang tinggi menghancurkan politik iklim Indonesia (FOLU net sink) dan pejabat rupanya tidak belajar dari kesalahan-kesalahan masa lalu akibat pengeringan lahan gambut.

Pemerintah selalu mengatakan masalah ini akibat fenomena El-Niño berkepanjangan. Ini bukan alasan, karena kekeringanlah yang hanya mempercepat kebakaran. Sebenarnya bencana ini adalah buatan manusia. Hutan hujan yang utuh hampir tidak pernah terbakar, juga di musim kering. Baru jika hutan di tebang dan dikeringkan bagi pertambangan, perkebunan atau pembangunan jalan, hutan hujan akan kehilangan iklim mikronya yang lembab. Ini merupakan penyulut kebakaran hutan dan lahan gambut yang sulit bisa dikendalikan.

 

Halaman ini tersedia dalam bahasa berikut:

Petisi aktual, latar belakang dan informasi lanjutan

Pesan buletin kami sekarang.

Tetap up-to-date dengan newsletter gratis kami - untuk menyelamatkan hutan hujan!