Iklim: CO2 di atmosfer bumi

Pelestarian dan perlindungan ekosistim alami, permukaan tanah dan laut samudra karena itu kemampuan alam penting untuk menjaga iklim bumi dari kolaps dan wilayah pantai dari banjir.

Dari mana datangnya kandungan CO2 yang meningkat di atmosfer bumi?

Peningkatan pesat karbon di atmosfer bumi dimulai dengan revolusi industri. Sekitar tahun 1750 jumlahnya masih 589 Gt C. Berarti jumlahnya sekarang 250 GT C lebih banyak di atmosfer dibanding 250 tahun yang lalu.

Kini umat manusia melepaskan 8,9 Gt C tiap tahunnya. Jumlah utamanya sebesar 7,8 Gt C tiap tahun, disebabkan oleh kita membakar sumber energi fosil seperti minyak bumi, gas bumi dan batu bara dan memproduksi semen tanpa batas untuk industri bangunan. Dengan kita menebang hutan dan ekosistim lainnya serta membakarnya, mengeringkan rawa dan mengeksploitasi ladang yang kaya humus bagi pertanian, tiap tahunnya kita melepaskan 1,1 Gt C.

Siklus alamiah di vegetasi, tanah dan laut membuat sekitar setengahnya (berarti 4,9 Gt C tiap tahun) kembali ditarik dari atmosfer. Dengan begitu laut samudra mengikat tiap tahunnya sekitar 80,6 Gt C dan memancarkan 78,4 Gt C. Jadi ikatan karbon bersihnya adalah 2,3 Gt C per tahun. Vegetasi wilayah daratan tiap tahunnya mengikat 123 Gt C dan melepaskan 119 Gt C. Dengan demikian ikatan karbon bersihnya adalah 4 Gt C per tahun.

Kesimpulannya adalah saat kini tiap tahunnya oleh aktivitas manusia dilepas sekitar 4,1 gigaton karbon lebih banyak dari pada yang kembali diikat oleh proses alamiah.

Apa saja dampak dari perubahan iklim

Karbon dioksida yang dilepaskan manusia menahan pancaran panas bumi di atmosfer dan disamping gas lainnya yang dilepas yang terkait iklim (contohnya metana, nitrous oxide dlsb.) adalah bertanggung jawab atas pemanasan iklim dunia yang disebabkan oleh manusia.

Banyak orang percaya bahwa perubahan iklim tidaklah begitu bermasalah, bahkan naik beberapa derajat – terutama di wilayah-wilayah lebih dingin – justru baik. Apa yang mereka tidak tahu: Perubahan iklim berpengaruh besar pada kehidupan kita. Cuaca ekstrim seperti badai besar, kekeringan, hujan badang terus semakin kuat dan seringini ancaman besar bagi manusia, infrastruktur dan makanan kita.

Yang lebih mengancam lagi adalah melelehnya lapisan es kutub dan tumpukan gletser. Ketinggian air laut samudra oleh karenanya akan naik beberapa meter dan akan menenggelamkan daerah pantai yang padat hunian. Kota-kota di Indonesia seperti Jakarta dan Surabaya, dan banyak pulau kecil akan lenyap.

Pelestarian dan perlindungan ekosistim alami, permukaan tanah dan laut samudra karena itu tidak hanya penting bagi pelestarian biodiversitas, tapi juga untuk menjaga iklim bumi dari kolaps dan wilayah pantai dari banjir.



kebakaran hutan di Brasil © istockphoto.com